Dusun Talang Markisa merupakan nama satu Dusun pada Desa Sumber Urip yang terdapat di Kecamatan Selupu Rejang Kabupaten Rejang Lebong yang terletak di Provinsi Bengkulu. Dusun ini sebagai penghasil sayur-sayuran untuk provinsi Bengkulu dan daerah-daerah lainnya. Sebagai penghasil sayuran, dusun ini memiliki keunikan tersendiri. keunikan tersebut meliputi geografis dan topografis dusun yang berbukit-bukit dan sulit dijangkau karena akses jalan yang rusak parah. Kehomogenan masyarakat yang berasal dan merupakan transmigran dari jawa.
Masyarakat Dusun Talang Markisa yang homogen dari segi etnis ini, mudah untuk membentuk suatu orientasi dalam komunitasnya. Komunitas yang terbentuk dalam masyarakat ini adalah komunitas petani sayur. Dalam komunitas inilah mereka saling berbaur dan membentuk modal sosial untuk keberlangsungan kehidupan mereka.
“Komunitas petani sayur Dusun Talang Markisa” nama tersebut menggambarkan bahwa pada komunitas ini mayoritas masyarakatnya bekerja di sektor pertanian. Dari jumlah penduduk 53 KK, semuanya bermata penccaharian adalah sebagai petani sayur. Mata pencaharian ini merupakan mata pencaharian utama, yang menjadi tumpuan untuk membiayai kebutuhan dan kelangsungan kehidupan keluarga mereka.
“Petani Sayur”, kata orang adalah kehidupan yang paling makmur karena sayur untuk konsumsi sehari-hari dapat mengambil sayur dari hasil pertanian sendiri namun pada kenyataannya tidak demikian didusun talang markisa sayur hasil pertanian mereka sebenarnya bukan milik mereka, artinya kebanyakan dari mereka bekerja dilahan milik orang lain yang pembagian hasilnya setelah penjualan. Berdasarkan hasil FGD (Focus Discussion Group) dengan masyarakat Dusun Talang Markisa menunjukkan bahwa penghasilan petani sayur dalam sebulan hanya mencapai Rp 500.000/bulan (lihat tabel Matrik Ranking Mata Pencaharian). Bandingkan saja pendapatan mereka dengan biaya yang harus mereka keluarkan per bulannya. Seimbangkah??? Sebagai contoh untuk membeli sembako mereka harus mengeluarkan uang dua kali lipat jumlahnya dari harga standar pasaran. Di mana harga beras yang standarnya Rp 9.000,- per kg-nya, di dusun talang markisa dijual degan harga Rp 15.000,-. Mereka membeli beras karena mereka tidak menanam padi ini di karenakan ketiadaan sumber air yang banyak. Sungguh menakjubkan…
Selain harga sembako yang mahal permasalahan lainnya adalah tarif jasa transportasi yag tinggi. Biaya yang harus dikeluarkan untuk jasa transportasi menuju dusun ini Rp 15.000 dan jika pulang pergi maka biaya transportasi yang dikeluarkan adalah Rp. 30.000, ini diakibatkan karena fasilitas jalan menuju dusun ini sangat rusak parah sehingga kendaraan sulit untuk mengakses dusun ini. Ini berdampak pada pemasaran hasil panen mereka kesulitan untuk memasarkan hasil panen mereka karena biaya transportasi yang mereka harus keluarkan sangat mahal oleh karena itu mereka lebih memilih menjual hasil panen mereka kepada toke, selain mengurangi biaya tidak membuang waktu mereka yang seharusnya di alokasikan untuk bekerja di ladang.
Dari ke-2 paragraf sebelumnya mengambarkan bahwa komunitas petani sayur Dusun Talang Markisa ini masih mengalami kemiskinan. Hal ini dibuktikan dengan tingginya biaya hidup di sana yang tidak seimbang dengan penghasilan yang dihasilkan. Tingginya biaya hidup ini jelas akan mempengaruhi aspek mendasar atau kebutuhan dasar manusia lainnya, yakni pendidikan dan kesehatan.
Pendidikan dan kesehatan komunitas petani sayur Dusun Talang Markisa masih rendah. Kondisi ini tidak hanya disebabkan oleh kemiskinan, tetapi juga karena lokasi desa ini yang terpencil, jaraknya yang jauh (marjinal) dan fasilitas jalan yang rusak. Termarjinalnya dusun talang markisa merupakan alasan yang cukup logis untuk menjawab keterbatasan sarana dan prasarana di bidang pendidikan dan kesehatan. Di Dusun ini tidak terdapat satu sekolah pun baik SD, SMP, apalagi SMA. mereka yang bersekolah harus berjalan kaki sejauh ± 2KM atau 45 menit waktu yang diperlukan, karena sekolah yang ada berada di Desa Sumber Urip. Sekolah yang ada pada Desa Sumber Urip ini hanya SD dan SMP. jika ingin melanjutkan kejenjang SMA mereka harus bersekolah di Kota (Curup). karena itu mengapa keanyakan mereka hanya bersekolah sampai jenjang SD dan SMP, karena untuk melanjutkan kejenjang SMA biaya yang dibutuhkan sangat besar (tempat tinggal, biaya sekolah, makan dan lain sebagainya). di dusun ini belum adanya fasilitas kesehatan seperti pukesmas, pukesmas pembantu (pustu), bidan desa, dan dokter. Untuk menanggulangi masalah kesehatan masyarakat di dusun ini mengandalkan Dukun, obat tradisional, obat warung dan jika penyakit yang diderita dinilai parah mereka memeriksakannya ke puskesmas pembantu (pustu) yang letaknya berada didesa sumber Bening. layanan kesehatan di dusun sekarang hanya ada kunjungan rutin bidan desa per bulan dalam rangka kegitan posyandu walaupun realitanya kunjungan tidak dilakukan secara rutin.
“Kemiskinan dan marginalisasi” itulah kata yang dilabelkan pada komunitas petani sayur di Dusun Talang Markisa. Namun, di tengah-tengah kondisi yang demikian komunitas ini masih tetap bertahan. Dengan berbagai keterbatasan dan ketidakberdayaan, mereka tetap bersuka cita menatap masa depan di desa ini. Lantas, bagaimanakah strategi yang mereka lakukan dalam menghadapi dinamika kehidupan?
Untuk tetap bertahan hidup masyarakat di Dusun Talang Markisa tidaklah sulit alias gampang-gampang susah saja asalkan ada keberanian. kalimat inilah yang keluar dari beberapa penduduk ketika ditanya tentang cara bertahan hidup di dusun yag mereka tempati. “Semudah itukah?” dan “Bagaimana caranya?... selama mereka menunggu hasil panen dari pertaniannya mereka terkadang harus mengutang kepada toke atau juragan yang lahannya mereka olah dan mereka membayar utang itu ketika nanti mereka panen artinya pendapatan yang mereka dapat selain untuk memenuhi kebutuhan juga di alokasikan untuk membayar hutang. Selain itu petani dalam mengolah lahan sekarng ini sangat tergantung dengan pupuk baik Kimia maupun Organik. Untuk pupuk Organik mereka menyediakan atau membuat sendiri sedangkkan untuk pupuk Kimia disediakan oleh si pemilik lahan atau juragan. alat produksi lainnya yang mereka gunakan adalah cangkul, arit, sengkuit, sabit, alat penyemprot hama atau pupuk yang harus mereka sediakan sendiri atau meminjam dengan tetangga yang memiliki alat-alat itu.
“Ngutang” itulah kata yang tepat untuk menjawab pertanyaan di atas. Ngutang merupakan istilah lain dari meminjam atau menghutang. Di mana seseorang meminta bantuan orang lain untuk membiayai kebutuhannya dengan syarat dia harus mengembalikannya sesuai dengan kesepakatan. Adapun orang yang menjadi malaikat penyelamat para petani ini adalah pemilik warung dan toke (orang yang membeli hasil panen dari para petani untuk dijual kembali pada pihak yang membutuhkan).
Pemilik warung dan toke di dusun talang markisa merupakan orang-orang yang berjasa dalam membantu perputaran roda perekonomian komunitas petani sayur di daerah ini. Keberadaan mereka telah membantu komunitas dalam melangsungkan kegiatan pertanian (bagi para petani yang tidak memiliki modal). Di mana sang toke menyiapkan lahan, modal walaupun uang sewa lahan dan modal produksi belum dibayar. Begitu juga dengan pemilik warung, mereka dengan rela hati memberikan utang barang dagangan dan meminjamkan uang kepada para petani yang membutuhkan yng pembayarannya sesuuai dengan kesepakatan.
Keikhlasan pemilik warung dan toke memberikan utang pada para petani ini tidak semudah membalikkan telapak tangan. Dalam hal ini harus dibangun kepercayaan (trust) yang kuat antara kedua belah pihak yang bertransaksi. Memperoleh kepercayaan seseorang itu tidaklah dalam waktu yang singkat, tetapi dibutuhkan waktu yang relatif lama seperti dengan menjadi relasi kerja.
Seperti yang diungkapkan salah seorang pemilik warung di sana, bahwa dia memberikan utang kepada seseorang karena dia telah mengenalnya dan seseorang itu membayar hutangnya sesuai dengan waktu yang dijanjikan. namun si pemilik warung tidak dapat memberikan hutang terlalu banyak karena keterbatasan modal yang ia miliki.
Kondisi yang demikian hampir sama bagi setiap pemilik warung dan toke. Di mana modal sosial itu merupakan harga mati dalam setiap transaksi. Tingginya modal sosial ini akan membentuk solidaritas sosial yang kuat pada komunitas tersebut. Dengan adanya modal sosial tersebut komunitas ini bisa bertahan.
Dari uraian di atas menggambarkan potret kehidupan komunitas petani sayur di Dusun Talang Markisa. Utang mereka pada pemilik warung dan toke akan dibayar bila mereka telah mendapatkan uangdari hasil bagi hasil yang mereka peroleh dari pemilik lahan dan modal. Dan mereka akan ngutang lagi bila mengalami kesulitan di bidang keuangan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar