Dusun Talang Markisa merupakan bagian dari desa Sumber Urip kecamatan Selupu Rejang, kabupaten Rejang lebong. Wilayah ini sebenarnya memiliki sumber daya yang melimpah, tetapi mengalami berbagai kendala atau permasalahan dalam hal pengelolaannya.
Sumber daya alam yang ada di dusun Talang Markisa berupa lahan pertanian yang cukup subur sesuai dengan kondisi alam setempat yang didukung dengan cuaca yang cukup dingin dan berkabut. Dari segi pariwisata atau panorama alam yang begitu menarik perhatian pengunjung yang terdapat didusun Talang Markisa yaitu adanya objek pendakian Bukit Kaba. Mayoritas masyarakat dusun Talang Markisa adalah pendatang atau transmigran dari pulau Jawa. Namun dahulunya dusun ini didiami oleh masyarakat suku Rejang, tetapi seiring dengan waktu lama kelamaan dusun ini didiami oleh masyarakat transmigran asal Jawa sehingga masyarakat Rejang pindah kedaerah lain. Meskipun sumber daya pertanian yang ada cukup subur dan penghasilan yang diperoleh cukup tinggi, tetapi tidak sepenuhnya pendapatan yang diperoleh dapat mencukupi kebutuhan masyarakat setempat. Hal ini disebabkan karena biaya hidup yang cukup tinggi, dimana harga kebutuhan pokok sehari-harinya yang cukup mahal mencapai harga dua kali lipat dari harga biasanya.
Dengan harga yang tinggi, tentunya mereka juga harus mengeluarkan uang yang banyak pula untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka. Selain itu hal-hal yang menyebabkan biaya hidup mereka tinggi disebabkan karena jarak dusun Talang Markisa yang jauh dari pusat kota dan terbatasnya akses transportasi. Di mana transportasi yang ada hanya berupa ojek motor yang membutuhkan jarak tempuh yang cukup lama dengan biaya berkisar antara Rp 6.000,- /orang, dan Rp10.000- Rp 20.000,- / barang atau sesuai dengan berat keranjang yang dibawah, serta tergantung dengan jarak tempuh yang dilalui. Karena tidak semua masyarakat memiliki kendaraan bermotor sendiri.
Masyarakat didusun Talang Markisa pada umumnya bermata pencaharian sebagai petani sayuran, dan masalah pertanian itu berkaitan dengan jenis tanaman yang ditanam atau yang menjadi komoditas andalan masyarakat setempat yaitu berupa tanaman kol, cabe, wortel, ubi sela, daun bawang, dan bunga kol. Selain itu terdapat juga pola kegiatan, pola tanam, penanganan hama, pola pengupahan, dimana pola pengupahan merupakan salah satu mata pencaharian yang cukup membantu penghasilan atau pendapatan keluarga selama menunggu waktu panen diladang sendiri.
Namun teknologi yang digunakan dalam sistem pertanian masih sangat sederhana sehingga mempengaruhi hasil panen atau produksi. Akses produksi meliputi perolehan bibit dan juga pupuk, di mana penggunaan pupuk yang digunakan kebanyakkan menggunakan pupuk kompos dibandingkan dengan pupuk mess atau pupuk pusri. Hal ini disebabkan karena harga pupuk pusri tersebut sangat mahal. Tetapi terkadang petani membeli pupuk tersebut kepada tengkulak atau toke dengan konsekuensi hasil panen harus dijual kepada tengkulak dengan harga yang telah disepakati. Kualitas tanah didusun ini cukup subur yang didukung dengan iklim dan cuaca yang baik.
Berkaitan dengan masalah kepemilikan lahan, dimana lahan yang mereka miliki tidak sepenuhnya lahan milik sendiri tetapi ada juga yang berprofesi sebagai petani penggarap, dimana masyarakat diberi izin untuk menggarap lahan milik orang lain, namun modal yang digunakan adalah modal sendiri. Hal ini disebabkan karena masyarakat tersebut memiliki keterbatasan lahan dan modal yang menjadi faktor penghambat produksi. Dan bila petani memperoleh lahan dengan cara menyewa, maka besarnya sewa lahan itu tergantung dengan lamanya waktu untuk menyewa dan luas lahan tersebut.
Selain itu ada yang berprofesi sebagai buruh, baik sebagai buruh cangkul, merumput, dan buruh petik dimana penghasilan sebagai buruh petik dan rumput itu berkisar antara Rp 25.000,- s/d Rp 30.000,- /orang bagi perempuan. Tetapi bagi buruh cangkul laki-laki upahnya sebesar Rp 35.000,- /orang. Bahkan ada juga yang berprofesi sebagai tukang ojek dimana transportasi ojek merupakan sarana yang cukup mendukung atau utama bagi kegiatan atau rutinitas masyarakat dibidang pertanian untuk mengangkut hasil panen mereka kegudang penjualan ( toke ) atau kepasar, dimana jarak tempuh menuju pasar itu cukup jauh. Hal ini disebabkan kendaraan roda empat tidak bisa masuk menuju dusun Talang Markisa yang terkendala dengan kondisi jalan yang cukup terjal dan berbatuan. Kondisi jalan tersebut tetap dibiarkan rusak pada dasarnya agar para penebang hutan tidak bisa leluasa menebang hutan secara semena-mena atau eksploitasi terhadap hutan yang berkaitan dengan kawasan konservasi gajah dan alam.
Permasalahan lain yang dihadapi oleh masyarakat setempat seperti masalah pendidikan. Dalam hal pendidikan masyarakat Talang Markisa mengalami permasalah dibidang sarana dan prasarana yang masih sangat terbatas, dimana gedung sekolahan khususnya Sekolah Dasar hanya terdapat didesa Sumber Urip, sedangkan sekolahan menengah terdapat didesa lain. Maka jarak tempuh yang dilalui anak-anak untuk menempuh tempat sekolahan / SD cukup lama sekitar 45 menit dengan berjalan kaki, selain itu biaya sekolah yang dikeluarkan pun cukup mahal, sehingga terkadang orang tua murid harus menunggak pembayaran uang sekolah hingga waktu panen tiba, namun hal ini berkaitan dengan kebijakan dari pihak sekolahan untuk memberikan kompensasi kepada siswa dan orang tua murid. Bahkan berdampak juga pada terjadinya anak-anak yang mengalami putus sekolah. Dan tenaga pengajar yang ada juga masih sangat minim.
Dari segi Kesehatan, yang menjadi penghambat yaitu masih berkaitan dengan masalah sarana dan prasarana, yaitu tidak adanya fasilitas puskesmas didusun Talang Markisa, serta kondisi lingkungan dan sanitasi, dan konsep hidup sehat dan bersih atau keadan sakit, lalu tenaga medis yang hanya bisa ditemui didesa sumber bening yang jaraknya sekitar 30 menit menggunaakan kendaraan bermotor. Dan kebanyakan masyrakat didusun Talang Markisa memiliki anak kecil, sehingga dibutuhkan kesadaran masyarakat akan Keluarga Berencana ( KB ) untuk menundah tingkat kelahiran.
Sumber air bersih yang digunakan oleh masyarakat setempat berasal dari aliran air gunung yang bercampur dengan belerang, yang dialirkan melalui saluran pipa menuju tempat penampungan atau bak air lalu dialirkan kerumah-rumah warga. Air inilah yang digunakan oleh masyarakat untuk kebutuhan sehari-harinya baik untuk minum,masak dan juga MCK.
Selain itu letak rumah dengan MCK tidak berjauhan yang pada dasarnya tidak baik untuk kesehatan. Pola makan yang meliputi gizi & nutrisi pada masyarakat ini tidak terlalu diperhatikan, dikarenakan tergantung dengan pendapatan yang diperoleh oleh masyarakat setempat. Namun terkadang masyarakat sulit untuk membeli makanan yang bergizi, dikarenakan pendapatan mereka yang rendah dan terkadang warga harus mengutang diwarung didekat tempat mereka dan dibayar setelah hasil panen mereka terjual.
Selain itu pola pengobatan yang dilakukan oleh masyarakat setempat biasanya pertama kali itu masih mengkonsumsi obat warung jika sakit tersebut belum terlalu parah, tetapi jika dirasa obat warung tersebut tidak mempan maka masyarakat pergi kedukun atau kepuskesmas tergantung dengan penyakit yang diderita, sehingga biaya yang dikeluarkan pun tergantung dengan penyakit yang diderita pasien.
Dari segi lingkungan berkaitan dengan kondisi tata ruang, kelestarian hutan atau pemanfaatan sumber daya hutan, fungsi lahan, dimana lahan yang ada sudah beralih fungsi menjadi lahan pertanian sayuran, serta eksploitasi terhadap hutan yang berdampak pada terjadinya bencana alam, maka dari itu didaerah kawasan dusun Talang Markisa terdapat kawasan konservasi gajah dan alam.
Dusun Talang Markisa pada umumnya merupakan warga transmigran asal Jawa dimana masyarakat setempat masih mempertahankan adat istiadat Jawa seperti ketika ada acara hajatan atau acara kematian, maka masyarakat setempat melakukan gotong royong dan memberikan bantuan sedekah alakadarnya kepada yang punya hajatan. Masyarakat dusun Talang Markisa pada dasarnya memiliki etos kerja yang tinggi, dimana terdapat pola pembagian kerja dalam keluarga, seperti ketika membuka lahan maka yang bekerja merumput, membersihkan dan mencangkul biasanya ayah dan anak laki-laki termasuk dalam hal mengurus ternak. Tetapi para perempuan ( ibu, anak perempuan ) bertugas menyiapkan makanan, mengasuh dan mengurus rumah serta membersihkan lahan, tetapi ketika waktu tanam dan panen semua anggota keluarga turun membantu sehingga disini pola kekeluargaan begitu terasa.
Dan masalah komunikasi merupakan salah satu faktor penghambat yang dihadapi oleh masyarakat dusun Talang Markisa untuk memperoleh informasi yang ada, dikarenakan akses jaringan yang sulit dicapai, dan komunikasi yang terdapat didusun ini berupa radio, handphone, dan televise. Tetapi sarana tersebut tidak sepenuhnya bisa di akses setiap saat oleh masyarakat, hal ini disebabkan karena sarana penerangan yang ada hanya menggunakan genset yang memerlukan biaya yang cukup mahal untuk pembelian bensin, sehingga menjadi permasalahan pengeluaran yang cukup dipertimbangkan.
Didusun Talang Markisa tidak terdapat listrik, namun sekitar beberapa tahun yang lalu ada pembangunan listrik tetapi tidak berjalan dengan baik, karena untuk meyambungkan aliran listrik kerumah-rumah itu warga harus mengeluarkan biaya sendiri yang bagi warga setempat dirasakan cukup mahal. Maka dari itu warga lebih memilih menggunakan genset.
Dari semua permasalahan yang dihadapi oleh masyarakat di dusun Talang Markisa ini dipertimbangkan dengan banyak alasan, diantaranya dengan akses jalan yang belum memadai, sehingga sarana transportasi seperti mobil tidak dapat masuk ke Dusun ini, hanya motor yang bisa masuk ke Dusun Talang Markisa. Dan dengan biaya hidup yang tinggi serta biaya sekolah yang juga cukup mahal, membuat anak-anak sulit untuk melanjutkan sekolah ketingkat yang lebih tinggi dan kebanyakan anak-anak mereka hanya bersekolah sebatas SMP atau berakibat pada banyaknya anak-anak yang mengalami putus sekolah. Dan tak jarang putus sekolah berdampak juga pada terjadinya pernikahan usia dini, seperti anak perempuan sebut saja Dini yang baru berusia 16 tahun sudah harus menikah dan memiliki anak yang usia kelahirannya masih sangat berdekatan.
Hal semacam ini seharusnya mendapatkan perhatian dari pemerintah setempat untuk memberikan solusi dan bantuan terhadap permasalahan-permasalahan yang dialami oleh rakyatnya yang tidak hanya berkaitan dengan masalah pendidikan,ekonomi, tetapi juga berkaitan dengan masalah kesehatan, pertanian, komunikasi, transportasi, lingkungan, budaya, politik, kependudukan, pariwisata dan bahkan keamanan wilayah yang berhubungan dengan kondisi kelestarian hutan dan kawasan konservasi gajah/ fauna dan alam. Kendala-kendala seperti ini yang masih dirasakan oleh masyarakat setempat sehingga banyak masalah-masalah yang dihadapi oleh masyarakat di Dusun Talang Markisa berdampak pada terjadinya kemiskinan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar