Selasa, 29 November 2011

PERAN GANDA PEREMPUAN SINGLE PARENT YANG TIMBUL AKIBAT PERCERAIAN (Studi kasus: kasus perceraian yang terjadi di Argamakmur Kabupaten Bengkulu Utara)

PERAN GANDA PEREMPUAN SINGLE PARENT YANG TIMBUL AKIBAT PERCERAIAN
(Studi kasus: kasus perceraian yang terjadi di Argamakmur Kabupaten Bengkulu Utara)



Disusun Oleh:
NOVITA HARIANI
D1F007039

JURUSAN SOSIOLOGI
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS BENGKULU
Tahun 2010



BAB I
PENDAHULUAN
1.1             Latar Belakang
Keluarga merupakan kelembagaan (institusi) primer yang sangat penting dalam kehidupan manusia, baik sebagai individu maupun masyarakat. Setiap individu berangkat dari sistem sosial keluarga, sebelum ia memasuki sistem sosial keluarga, sebelum ia memasuki sistem sosial yang lebih besar, yaitu masyarakat, kemudian kembali dalam sistem sosial keluarga.
Keluarga juga merupakan subsistem (unit) kelembagaan terkecil dalam sistem sosial yang lebih besar, seperti masyarakat, bangsa, dan Negara. Oleh karena itu tidak berlebihan apabila ungkapan “Sumber kekuatan dan kesejahteraan suatu bangsa adalah kekuatan dan kesejahteraan keluarga” (Hendi, Dkk. 2001: 5).
Untuk meningkatkan kesejahteraan dan kekuatan keluarga, diperlukan ilmu pengetahuan tentang berbagai aspek yang menyangkut kehidupan keluarga, baik pola interaksi antar individu dalam keluarga maupun pola interaksi keluarga dalam keluarga maupun pola interaksi antar keluarga dalam sistem sosial yang lebih besar (masyarakat).
Keluarga juga dipandang sebagai lembaga yang kuat daya tahannya karena kemampuannya dalam mengendalikan individu secara terus-meneruss. Hal ini penting mengingat setiap keluarga berfungsi sebagai pengantar pada masyarakat besar dan penghubung pribadi-pribadi dengan struktur sosial yang lebih besar. Kita pun menjadi manusia yang berkat adanya keluarga.
Dengan bertambah kompleksnya kebudayaan, bagaimana sesungguhnya peran keluarga pada masa sekarang ini? dengan semakin kompleksnya kebudayaan akan membawa perubahan pada keluarga. Perubahan itu akan membawa konsekuensi terhadap hubungan antar anggota keluarga, hubungan keluarga dengan lembaga-lembaga sosial lainnya, bentuk keluarga, ketahanan keluarga, fungsi keluarga, peran anggota keluarga, dan sistem keluarga.
Dengan semakin kompleks permasalahn yang ada, juga dapat membawa perubahan pada keluarga. seperti perceraian.  Ikatan mempertalikan suami dan istri dalam perkawinan kadangkala rapuh dan bahkan putus sehingga terjadi perpisahan atau bahkan perceraian. Dengan terjadinya perceraian maka dengan sendirinya fungsi keluarga akan mengalami gangguan dan pihak yang bercerai maupun anak-anak harus menyesuaikan diri dengan situasi baru. Dengan demikian peningkatan angka perceraian dalam masyarakat pun membawa peningkatan gaya hidup khas keluarga bercerai, seperti hidup sendiri menjanda atau menduda, adanya anak yang harus hidup dengan salah satu orang tua saja, dan bahkan mungkin hidup terpisah dengan saudara kandungnya yang lain (Kamanto, 2004:64).
Dari tahun ke tahun angka perceraian terus  meningkat, dapat dilihat pada tabel di bawah ini yang didapat pra  penelitian (Data Perkara perceraian yang pernah masuk di Pengadilan Agama Kelas 1 B Arga Makmur Dari tahun 2005 sampai dengan 2009)
TAHUN
KASUS PERCERAIAN YANG MASUK (DITERIMA)
KASUS (PERKARA)PERCERAIAN YANG DISELASAIKAN (PUTUS)
SISA PERKARA  (KASUS) YANG BELUM DISELESAIKAN (BELUM DIPUTUS)
2005
162
164
24
2006
201
192
33
2007
220
212
41
2008
241
251
31
2009
272
254
49

Dari gambaran tabel ini dapat dilihat bahwa, setiap tahunnya angka perceraian terus meningkat, dari sekian banyak angka tingkat perceraian tersebut maka akan menghasilkan atau menciptakan banyak keluarga single parent dan akan timbul perempuan single parent.
Perceraian mungkin juga dianggap sebagai suatu kesialan dalam rumah tangga di manapun. Akan tetapi, pandangan ini harus diikuti dengan keyakinan bahwa perceraian merupakan suatu penemuan sosial, semacam pengamanan bagi ketegangan yang ditimbulkan oleh perkawinan. Namun demikian, kendatipun angka perceraian dalam suatu daerah sangat tinggi, tidak satupun masyarakat yang memiliki persetujuan yang kuat terhadap perceraian.
Denga terjadinya perceraian, hubunga suami istri mungkin berakhir dengan suatu permusuhan. Hubungan semacam ini merupakan penderitaan yang berat. Tak ada seorang pun yang mengharapkan hal ini terjadi. Hasil penelitian yang menggunakan 41 ampel sampel orang tua yang bercerai menunjukkan adanya suatu hubungan yang berkesinambungan setelah perceraian. Hubungan ini bergerak dari perasaan saling benci terhadap pasangan dan hubungan yang menganggap pasangan sebagai teman. Para responden banyak yang tidak menganggap bahwa mantan pasangannya sebagai teman, tetapi sebagai musuh (Constante, 1979: 499-501). Hubungan antara mantan suami istri bukan sebagai teman dan bukan pula sebagai musuh ditandai dengan adanya hubungan “seperlunya”. Komunikasi dengan anak hanya dilakukan pada saat-saat tertentu.
Akibat perceraian hidup maupun perceraian mati akan menghadirkan keluarga single parent. Single parent adalah keluarga yang terdiri dari orang tua tunggal baik ayah maupun ibu sebagai akibat perceraian atau kematian.
Kelurga single parent akan mendapat tugas ganda. Apabila yang terjadi adalah ketiadaan ayah, peran ibu menjadi bertambah sebagai pencari rezeki dan pengasuh anak. Dampak dari kehidupan keluarga single parent terhadap pendidikan anak-naka sangat signifikan. Rendahnya pendidikan akibat dari tidak lengkapnya orang tua dapat dibuktikan. Dampak tersebut bukan hanya karena hilangnya salah satu orang tua, melainkan ditentukan pula oleh faktor lainnya, seperti status sosial ekonomi orang tuanya dalam kebiasaan dalam keluarga.

1.2             Rumusan Masalah
1.      Apa yang dimaksud dengan single parent atau keluarga single parent?
2.      Sebab-sebab yang menimbulkan terjadinya keluarga single parent?
3.      Akibat dari timbulnya keluarga single parent?
4.      Bagaimana peran perempuan single parent?


1.3             Tujuan Penelitian
1.      Tujuan Khusus
Tujuan khusus dari pembuatan proposal penelitian ini adalah merupakan salah satu syarat bagi mahasiswa Program Studi Sosiologi Fisip UNIB untuk mendapat gelar kesarjanaan S1 di bidang Sosiologi.

2.      Tujuan Umum
Tujuan umum dari pembuatan proposal penelitian ini adalah bahwa penelitian sosial merupakan kegiatan ilmiah untuk menjelaskan gejala sosial; suatu upaya dalam rangka memecahkan masalah (mencari solusi) atau paling tidak memperkecil kesenjangan antara das Sollen dan das Sein; atau menemukenali (mengidentifikasi) masalah sosial yang terjadi.
1.4             Manfaat Penelitian (Faedah Penelitian)
Berdasarkan pada tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini, maka manfaat yang diharapkan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1)      Manfaat Praktis
Manfaat praktis ini berkaitan mengenai manfaat untuk masyarakat. Manfaat untuk masyarakat adalah menggambarkan peran ganda perempuan single parent yang terjadi akibat perceraian, karena pada umumnya mayarakat menganggap perceraian itu merupakan suatu “kesialan maupun aib”, namun ketika itu menggambarkan suatu perjuangan kaum perempuan setidaknya menjadi contoh panutan akan kegigihan perempuan single parent dalam menjalankan peran gandanya. sehingga apa yang telah dikondisikan (negative) single paren (janda) akan memberikan manfaat-manfaat positif yang dapat menjadi panutan atau pelajaran bagi masyarakat.
2)      Manfaat Teoritis
Manfaat teoritis dari penelitian ini adalah sebagai bahan masukan bagi ilmu pengetahuan terutama yang berhubungan dengan peran ganda perempuan single parent yang timbul akibat adanya perceraian, mengenai gender (perempuan) dan keluarga maupun kemajuan metodologi di bidang Sosiologi, agar kemudian dapat dikembangkan dalam upaya menambah wawasan keilmuan Sosilogi.

1.5             Lokasi Penelitian
Lokasi penelitian saya akan dilaksanakan di Argamakmur. Terutama yang saya akan kerjakan adalah mencari data mengenai kasus perceraian yang masuk dan ditangani di Pengadilan Agama Kelas 1 B Argamakmur. Data itu berupa data-data mengenai alamat dan siapa saja yang pernah menyelesaikan kasus perceraian di Pengadilan Agama Argamakmur.
Penelitian yang akan saya lakukan fokusnya adalah pada perempuan single parent yang terjadi akibat perceraian. Lokasi penelitiannya yaitu di Argamakmur.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1       Definisi Single parent
Single berarti satu atau sendiri dan parent berarti orang tua. Single parent adalah keluarga yang terdiri dari orang tua tunggal baik ayah atau ibu sebagai akibat perceraian dan kematian. Single parent dapat dapat terjadi pada lahirnya seseeorang anak tanpa ikatan perkawinan yang syah dan pemeliharaannya menjadi tanggung jawab itu (Hunrlock, dalam Hendi, Dkk. 2001:140).
2.1.2   Sebab-sebab terbentuknya keluarga single parent
Keluarga single parent dapat disebabkan oleh adanya perceraian, kematian, orang tua angkat dan orang tua berpisah tempat tinggal /belum bercerai (Hendi, Dkk. 2001:141).
1.      single parent yang disebabkan oleh kematian.
Single parent yang disebabkan oleh kematian  salah satu orang tua akan menimbulkan krisis yang dihadapi anggota keluarga. Namun menurut (Polak, 1979:363), krisis yang ditimbulkan oleh kematian seorang ayah tidak begitu besar bila dibandingkan dengan akibat perceraian. Kehilangan seorang ayah akibat kematian sangat mengganggu ekonomi sebuah keluarga karena peranan ekonomi yang dijalankan ayah telah tiada.akan tetapi, hal itu tidak lantas tidak mendukung pendidikan anak menyebabkan para istri yang ditinggalkan itu mencarikan ayah tiri bagi anak-anaknya. Peran ayah secara wajar dapat digantikan oleh ibu dari pada mengambil ayah tiri. Hal ini karena dianggap peran ayah tiri.
2.      Single parent yang disebabkan oleh perceraian
Ikatan yang mempertalikan suami dan istri dalam perkawinan kadangkala rapuh dan bahkan putus sehingga terjadi perpisahan atau bahkan perceraian. Dengan terjadinya perceraian maka dengan sendirinya fungsi keluarga yang mengalami gangguan dan pihak yang bercerai maupun anak-anak harus menyesuaikan diri dengan situasi baru. Dengan demikian peningkatan angka perceraian dalam masyarakat pun membawa peningkatan gaya hidup khas keluarga bercerai (single parent), seperti gaya menjanda atau menduda, adanya anak yang harus hidup dengan salah satu orang tua saja, dan bahkan hidup terpisah dengan saudara kandung (Kamanto, 2004:64).
Terputusnya keluarga di sini disebabkan karena salah satu atau kedua pasangan itu memutuskan untuk saling meninggalkan, dan dengan demikian berhenti melaksanakan kewajiban dan peranannya (Goode, 1985:185).
3.      Single parent yang disebabkan karena orang tua angkat
Single parent yang disebabkan karena orang tua angkat ini merupakan, orang tua baik perempuan maupun laki-laki yang mengasuh dan menghidupi anak angkatnya (bukan anak kandung).
4.      Single parent yang disebabkan karena orang tua berpisah tempat tinggal (belum bercerai).
Single parent bentuk ini adalah biasanya disebabkan karena orang tua memiliki pekerjaan diluar daerah sehingga membuat mereka untuk berpisah tempat tinggal namun tidak bercerai. Biasanya anak, menjadi asuhan orang tua perempuan.
2.1.3   Akibat dari timbulnya keluarga single parent
Keluarga single parent  akan mendapatkan tugas ganda. Pabila terjadi adalah ketiadaan ayah, peran ibu menjadi bertambah sebagai pencari rezeki dan pengasuh anak. Padahal keluarga memililiki banyak peran (fungsi) yang harus diemban (Hendi, Dkk. 2001:45), yaitu:
1.      Fungsi Biologis
Fungsi bilogis berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan seksual suami istri. keluarga ialah lembaga pokok yang secara absah memberikan uang bagi pengaturan dan pengorganisasian kepuasan seksual. Namun, ada pula masyarakat yang memberikan toleransi yang berbeda-beda terhadap lembaga yang mengambil alih fungsi pengaturan seksual ini, misalnya tempat-tempat hiburan dan panti pijat. Kenyataan ini pada dasarnya merupakan suatu kendala dan sekaligus suatu hal yang sangat rumit untuk dipikirkan. kelangsungan sebuah keluarga, banyak ditentukan oleh keberhasilan dalam menjalani hubungan biologis. Apabila salah satu pasangan kemudian tidak berhasil menjalankan fungsi biologisnya, dimungkinkan akan terjadinya gangguan dalam keluarga yang biasanyya berjuang pada perceraian dalam poligami.
2.      Fungsi sosialisasi anak
Fungsi sosialisasi menunjuk pada peranan keluarga dalam membentuk kepribadian anak. Melalui fungsi ini, keluarga berusaha mempersiapkan bekal bersikap, keyakinan, cita-cita, dan nilai-nilai yang dianut oleh masyarakat serta mempelajari peranan yang diharapkan akan dijalankan mereka. Dengan demikian, sosialisasi berarti melakukan proses pembelajaran terhadap seorang anak. Belajar tidak selalu diartikan sebagai suatu aktivitas yang sifatnya semata-mata intelektual, tetapi juga mencakup hal lain, yaitu pengamatan. Melalui proses belajar mengajar dalam keluarga ini, anak mengetahui bagaimana cara berfikir dari kelompoknya itu.
Sejalan dengan itu, baik atau buruknya sosialisasi dalam keluarga akan berpengaruh terhadap anggotanya. Abdullah Nasikh Ulwan dalam (Hendi, Dkk. 2001:46) mengatakan bahwa anak adalah amanat yang berada di pundak orang tuanya. Kalbunya yang murni bersih, seperti mutiara yang tidak ternilai. Bila dibiasakan dan dididik kebaikan, dia akan tumbuh menjadi orang baik berbahagia di dunia dan akhirat. Apabila dibiarkan pada kejelekan seperti layaknya hewan, niscaya dia akan rusak dan menderita. Kalu sudah begitu keadaannya, sukar untuk dididik dan diarahkan.
Proses sosialisasi tidak sewajarnya diberikan kepada orang lain. Peran orang tua sangat besar dalam proses sosialisasi ini sebab dari anak akan meniru segala yang dilihat dan dipelajari dari orang tuanya. Apabila orang tua tidak menjalankan fungsi sosialisasi dengan baik, Problem yang muncul adalah anak kehilangan perhatian. Setelah itu dia mencari tokoh lain selain orang tuanya untuk ditiru.
Semua masyarakat sangat menggantungkan diri kepada keluarga dalam hal sosialisasi sebagai persiapan untuk memasuki usia dewasa agar anak dapat berperan secara positif di tengah-tengah masyarakat. Salah satu caranya adalah melalui pemberian model bagi anak. Anak belajar menjadi laki-laki, suami, dan ayah dengan keluarga yang betul-betul dipimpin oleh seorang laki-laki. Sosialisasi akan menemukan kesulitan apabila model semacam itu tidak ada dan bila anak harus mengandalkan diri pada model yang disaksikan dalam keluarga lain. Dalam proses sosialisasi tidak ada peran pengganti ayah dan ibu yang betul-betul memuaskan. sejumlah studi mutakhir menyimpulkan bahwa alasan utama perbedaan prestasi intelektual anak adalah suasana dalam keluarga. studi semacam ini semakin menegaskan bahwa keluarga merupakan faktor penentu utama bagi sosialisasi anak.
Sebaliknya dalam keluarga yang serba susah dan menghadapi berbagai masalah kemiskinan yang mencekik, problem sosialisasi dalam keluarga tidak dapat berjalan normal. Keluarga seperti ini akan menyosialisasikan anak-anak dan ketergantungan terhadap orang tua.
Sosialisasi bagi manusia berlangsung terus selama dia hidup, yaitu sejak ia dilahirkan sampai ia meninggal dunia. proses dan bentuk sosialisasi oleh setiap manusia sangatlah berbeda dan tbergantung pada masa seseorang itu berada. Setidaknya, siklus kehidupan manusia itu ditentukan oleh beberapa masa, yaitu masa kanak-kanakk, masa remaja, masa dewasa, masa tua, dan masa menuju kematian.
a)      Sosialisasi pada masa kanak-kanak
Orang tua memiki kewajiban mengajarkan kepada anak-anaknya tentang segala hal. kewajiban ini merupakan bentuk peran orang tua dalam sosialisasi. Pada masa kana-kana, orang tua merupakan agen tunggal bagi anak dalam bersosialisasi. Proses sosialisasi pada tahap ini digambarkan melalui konsep A-G-I-L yang diperkenalkan oleh Talcot Parsons dalam menganalisis tindakan sosial. A(Adaption), G(Goal Attainment), I (Integration), dan L (Latent pattern maintenance).
Pada masa adaptasi (Adaption) anak mulaii mengadakan penyesuaian diri dengan lingkungannya. Reaksi yang dilakukannya tidak hanya datang dari dalam dirinya, melainkan datang dari luar. Pada masa inilah peran orang tua sangat penting karena banyak membantu anak pada masa ini. Hukuman dan penghargaan mengenai sikap yang harus dia lakukan dan pembuatan yang harus dia tinggalkan.
Pada fase pencapaian tujuaan (goal attainment), seorang anak bertindak dengan tujuan tertentu dan lebih terarah. Ia kemudian berusaha untuk melakukan perbuatan yang mneyebabkannya mendapat penghargaan dari orang tuanya. Pada fase ini, perbuatan yang keliru oleh anak akan dihindari.
Pada fase integrasi(integration), perbuatan seorang anak sudah lebih mendalam, yaitu setiap tindakan yang dilakukannya merupakan bagian dari hidupnya. Norma-norma yang dilakukan merupakan bagian dari hidupnya di tengah-tengah keluarga.
Pada fase laten, perbuatan seorang anak banya didasarkan atas respon orang lain di luar dirinya. Di sini anak belum mampu merumuskan apa yang dia lakukan karena pengenalan terhadap dirinya belum jelas. Pada maasa ini, anak masih dianggap bagian dari ibunya. Oleh karena itu, lingkungan tempat tinggalnya belum menganggap dirinya sebagai individu yang perlu diajak berinteraksi.
b)     Sosialisasi pada masa remaja
Pada masa ini seseorang berada pada masa transisi, yaitu meninggalkan masa kanak-kanak dan masuki usia remaja. Masa ini disebut juga sebagai reserve socialization, yaitu orang yang lebih muda dapat menggunakan pengaruh mereka kepada orang yang lebih tua. Dengan kata lain, reserve socialization   berarti orang yang seharusnya disosialisasikan, tetapi justru menyosisalisasikan. Proses ini terjadi pada masyarakat yang mengalami perubahan cepat.
Agen sosialisasi pada masa remaja bukan lagi orang tua, melainkan teman sebaya, kelompok sepermainan dan mungkin juga lawan jenisnya. Pada masa ini, sangat sedikit ketergantungan kepaada orang tua sebab dia mendapatkan nilai-nilai baru secara lebih luas di luar orang tuanya.
c)      sosialisasi pada masa dewasa
Proses sosialisasi dialami orang dewasa pada saat mereka mendapatkan peran yang baru. bagi orang dewasa, peran baru itu dapat berupa mendapatkan pekerjaan, menikah, dan memiliki anak. Tiga bentuk peran itu menuntut seseorang melakukan pembelajaran. semua peran baru ini menuntut orang dewasa memulainya lagi dari nol sebab ia belajar bersosialisasi kembali.


d)     Sosialisasi pada masa tua
Orang lanjut usia seperti seorang remaja yang mengalami transisi, yaitu dari masa yang produktif ke masa menuju kematian. pada masa ini iia juga banyak bergantung dengan yang lain. Di sinilah ia tampak seperti anak-anak yang secara fisik bergantung dengan anak atau saudara-saudaranya. Bahkan, kadang-kadang orang tua lanjut usia dianggap sebagai nonperson yang berarti ada tetapi keberadaannya tidak banyak memiliki arti.
Proses sosialisasi bagim mereka dilakukan secara bertahap. Pada masa usia 60 tahun, seseorang sudah menyadari untuk mengurangi beban pekerjaannya. Mereka kemudian menerima bahwa luang merupakan kegiatan pengganti dari mereka bekerja.

3.      Fungsi Afeksi
Salah satu kebutuhan dasar manusia adalah kebutuhan kasih sayang atau rasa dicinta. Pandangan psikiatrik mengatakan bahwa penyebab utama gangguan emosionalia,  perilaku dan bahkan kesehatan fisik adalah ketiadaan cinta, yakni tidak adanya kehangatan dan hubungan kasih sayang dalam suatu lingkungan yang intim. Banyak fakta menunjukkan bahwa kebutuhan persahabatan dan keintiman sangat penting bagi anak. Data-data menunjukkan bahwa kenakanlan anak serius adalah salah satu cirri khas dari anak yang tidak mendapat perhatian atau merasakan kasih sayang.
Kebutuhan kasih sayang ini merupakan kebutuhan yang sangat penting bagi seseorang. Banyak orang tidak menikah sungguh bahagia, sehat, dan berguna. Oleh karena itulah, kebutuhan kasih sayang sangat diharapkan bisa diperankan oleh keluarga.
Belakangan ini banyak muncul kelompok sosial yang mampu memenuhi kebutuhan persahabatan dan kasih sayang. Tentu saja kelompok ini secara tidak langsung merupakan perluasan perluasan dari fungsi afeksi dalam keluarga. Akan tetapi, perlu diwaspadai apabila kebutuhan afeksi itu kemudian diambil alih oleh kelompok lain di luar keluarga.
Kecendrungan dewasa ini menunjukkan bahwa, fungsi afeksi telah bergeser kepada oramg lain, terutama bagi mereka yang orang tuanya bekerja di luar rumah. Konsekuensinya anak tidak lagi dekat secara psikologis karena anak menganggap orang tuanya tidak memiliki perhatian. Lebih buruk lagi istri yang bekerja di luar rumah, senantiasa memanjakan anak-anaknya dengan barang-barang mewah (benda yang bersifat materialistis), padahal kebutuhan sesungguhnya bagi anak bukanlah hal itu, melaikan keintiman, perhatian, dan kasih sayang yang tulus dari ibunya. Lebih jauh lagi, seorang ibu yang bekerja di luar rumah akan memanjakan anaknya. Hal itu dilakukan karena adanya “rasa bersalah” terhadap anaknya akibat tidak bertemu seharian. Oleh karena itu, dampak lain yang muncul adalah longgarnya nilai kontrol orang tua terhadap anak dan pemberian toleransi terhadap perbuatan anak yang melanggar etika. inilah konpensasi yang tampakanya sulit dihindari bagi ibu yang bekerja di luar rumah.

4.      Fungsi Edukatif
Keluarga merupakan guru pertama dalam mendidik manusia. Hal itu dapat dilihat dari pertumbuhan seorang anak mulai dari bayi, belajar jalan-jalan, hingga mampu berjalan. Semuanya diajari oleh keluarga. salah astu contoh fungsi keluarga sebagai alat pendidikan dapat dilihat pada keluarga jawa dan sunda. Seorang anak yang menerima suatu pemberian dari orang lain harus menerima dengan tangan kanan. Jika tidak dengan tangan kanan, pemberian itu akan ditarik kembali. Sebaliknya jika menggunakan tangan kanan, pemberian itu benar-benar akan diberikan.
Tanggung jawab keluarga untuk mendidik anak-anaknya sebagian besar atau bahkan mungkin seluruhnya telah diambil oleh lembaga pendidikan formal maupun non formal. Oleh Karena itu muncul fungsi laten pendidikan terhadap anak, yaitu melemahnya pengawasan dari orang tua. Otoritas orang tua terhadap anak dikurangi oleh sekolah. Bahkan, tidak jarang seorang anak menemukan nilai-nilai baru yang sangat bertentangan dengan nilai-nilai orang tuanya, yang mungkin saja diejeknya.

5.      Fungsi Religius
Dalam masyarakat Indonesia dewasa ini fungsi keluarga semakin berkembang, di antaranya fingsi keagamaan yang mendorong dikembangkannya keluarga dan seluruh anggotanyya menjadi insan-insan agama yang penuh keimanan dan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Fungsi religius dalam keluarga merupakan salah satu indikator  keluarga sejahterah. Dalam UU No. 10 tahun 1992 tentang perkembangan Kependudukan dan Pembangunan Keluarga Sejahterah dan PP No. 21 Tahun 1994 tentang Penyelenggaraan Penyelenggaraan Keluarga Sejahterah disebutkan bahwa agama berperan penting dlam mewujudkan keluarga sejahterah. Dalam ketentuan umum kedua peraturan perundang-undangan itu dinyatakan bahwa “keluarga sejahterah adalah keluarga yang dibentuk berdasarkan atas perkawinan yang sah, mampu memenuhi kebutuhan spiritual dan material yang layak, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan antar keluarga dengan masyarakat dan lingkungan”.
Model pendidikan agama dalam keluarga dapat dilakukan dengan berbagai cara, yaitu:
1)      Cara hidup yang sungguh-sungguh dengan menampilkan penghayatan dan perilaku keagamaan dalam keluarga.
2)      Menampilkan aspek fisik berupa sarana ibadah dalam keluarga.
3)      Aspek sosial berupa hubungan sosial antara anggota keluarga dan lembaga-lembaga keagamaan.
Pendidikan agama dalam keluarga, tidak saja bisa dijalankan dalam keluarga, menawarkan pendidikan agama, seperti pesantren, tempat pengajian, majelis taklim dan sebagainya.
6.      Fungsi protektif
Keluarga merupakan tempat yang nyaman bagi para anggotanya. Fungsi ini bertujuan agar para anggota keluarga dapat terhindar dari hal-hal yang negative. Dalam setiap masyarakat, keluarga memberikan perlindungan fisik, ekonomis, dan psikologi bagi seluruh anggotanya.
Sebagian masyarkat memandang bahwa serangan terhadap salah seorang anggota keluarga berarti serangan bagi seluruh keluraga, dan semua anggota keluarga wajib membela atau membalaskan penghinaan itu. Kesalahan dan perasaan malu dipikul oleh seluruh keluarga. Kenyataan ini secara faktual mungkin disebabkan adanya ikatan darah yang kuat antara anggota keluarga dilukai dalam film-film India yang apabila seorang anggota keluarga dilukai atau dibunuh , tugas membalasnya berada pada pundak anggota keluarga lainnya. Hal ini membuktikan bahwa ikatan darah telah menyebabkan kuatnya hubungan antara anggota keluarga.
Dalam pandangan lain dinyatakan bahwa keterikatan kuat dalam anggota keluarga itu dimungkinkan karena pada masyarakat tradisional, serangan dan ancaman terhadap keluarga datang dari binatang buas dan makhluk lain di sekelilingnya sehingga solidaritas di antara keluarga semakin kuat untuk mempertahankan hidupnya. Pada masyarakat yang paling primitif, keluarga adalah unit pemilik dan pembagi makanan. Mereka bisa kenyang bersama-sama dan lapar bersama-sama selama saudara-saudaranya masih memiliki makanan, seseorang tidak perlu takut kelaparan.
Namun demikian, fungsi perlindungan dalam keluarga itu lambat laun bergeser dan sebagian telah diambil alih oleh lembaga lainnya. Misalnya dapat terlihat bahwa mula-mula laki-laki dari suatu keluarga melindungi anggotanya dengan menggunakan senjata, tetapi dewasa ini polisi dan petugas keamanan lainnya yang melindungi kesehatan, kini berusaha melindungi orang-orang dari serangan penyakit. Oleh karena itu banyak fungsi perlindungan yang kini diambil alih oleh lembaga lainnya, seperti tempat perawatan anak, anak cacat tubuh dan mental anak yatim piatu, anak nakal dan orang-orang lajut usia.

7.      Fungsi rekreatif
Fungsi ini bertujuan untuk memberikan suasana yang segar dan gembira dalam lingkungan. Fungsi rekreatif dijalankan untu mencari hiburan. Dewasa ini, tempat-tempat hiburan banyak berkembang di luar rumah karena berbagai fasilitas dan aktivitas rekreasi berkembang dengan pesatnya. Media TV termasuk dalam keluarga sebagai sarana hiburan bagi anggota keluarga.

8.      Fungsi Ekonomis
Pada masa lalu, keluarga di Amerika berusaha memproduksi beberapa unit kebutuhan rumah tangga dan menjualnya sendiri. Keperluan rumah tangga itu, seperti seni membuat kursi, makanan dan pakaian dikerjakan sendiri oleh ayah, ibu, anak, dan sanak saudara dan yang lain menjalankan fungsi ekonominya sehinggga mereka mampu mempertahankan hidupnya. Para anggota keluarga keluarga bekerja sebagai tim yang tangguh untuk menghidupi keluarganya.

9.      Fungsi Penentuan Status
Dalam sebuah keluarga,seseorang menerima serangkaian status berdasarkan umur, kelahiran, dan sebagainya. Status, kedudukan ialan suatu peringkat atau posisi seseorang dalam suatu kelompok atau posisi kelompok dalam hubungnanya dengan kelompok lainnya. Status tidak bisa dipisahkan dari peran. Peran adalah perilaku yang diharapkan dari seseorang yang mempunyai status.
Status dan peran terdiri atas dua macam, yaitu status dan peran yang ditentukan oleh masyarakat dan status dan peran yang diperjuangkan oleh usaha-usaha manusia. Misalnya wanita adalah status yang ditentukan (ascribed). Seseorang tidak dapat dijadikan wanita karena kepintaran dan kedewasaannya, kecantikannya, atau kejelekannya, kebodohannya atau kepintarannya dan sebagainya. Seseorang yang menerima status wanita itu, kemudian mendapat  peran sebagai perdana mentri, mahasiswi dan istri. Semua ini adalah status yang diperjuangkan (achieved). Seseorang mencapai satus ini melalui tahapan tersendiri yang diusahakan.
Berbeda dengan hal di atas. tua, muda, anak kecil adalah status. Bila suatu masyarakat ingin berfungsi secara efisien, ia harus menetapkan peran yang ditetapkan dan mengisi peran tersebut dan statusnya yang sudah ditetapkan. Latihan peran ini harus diberikan pada masa kanak-kanak. Jenis kelamin dan umur adalah dasar pemberian peran.
Keluarga diharapkan mampu menentukan status bagi anak-anaknya. Yang dapat dijalankan dari fungsi status ini adalah menentukan status berdasarkan jenis kelamin. Misalnya, seorang ayah bertanya kepada anak laki-lakinya,” mau jadi apa jika kamu dewasa nanti?” sedangkan kepada anak perempuan ditanyakan, “apakah kamu sudah besar nanti ingin menjadi seperti ibu?” tidak mengherankan jika laki-laki menjelang dewasa merasa khwatir mengenai karir mereka, semetara anak-anak perempuan disibukkan dengan menyusun kriteria calon suami.
Seorang anak perempuan dilatih bermain boneka, membantu ibunya di rumah, dan senantiasa dipuji karena kecantikannya. Sebaliknya diperkenankan bermain yang banyak menggunakan fisik, sedangkan wanita bermain dengan permainan yang membutuhkan naluri.
Latihan membedakan peran tersebut dilakukan secara konsisten selama bertahun-tahun sehingga membawa anak laki-laki dan perempuan pada kematangan fisik dengan perbedaan yang besar dalam tanggapan, perasaan, serta kecendrungan mereka kelak.
Walaupun demikian, ada pula peran yang dijalankan secara terbalik antara laki-laki dan perempuan selama masyarakat menerimanya. Misalnya, di Pakistan kaum pria adalah pelayan rumah tangga, di Philipina para ahli farmasi umumnya adalah kaum wanita, dan konon di Bali, wanita bekerja fisik menggantikan peran laki-laki.
Dari penjelasan mengenai fungsi keluarga di atas, maka asumsinya apabila terjadi perceraian maka salah satu pihak yang memutuskan untuk bercerai, keduanya akan berpisah. Salah satu pihak akan lebih disibukkan, karena apabila telah memiliki anak dan biasanya pihak yang lebih kuat memiliki hak kuasa terhadap anak adalah perempuan. Akibat dari perceraian yang terjadi akan menimbulkan peran ganda pada salah satu pihak, perempuan selain harus mencari nafkah maka ia akan juga harus mengasuh anak-anaknya. Dalam hal ini berarti perempuan harus  berperan menjalankan fungsi-fungsi yang seharusnya dijalankan oleh keluarga.
Kehidupan sehari-hari perempuan single parent  berada dalam suatu konteks beban ganda. Beban untuk memberikan pengasuhan yang tak dibayar dalam pelayanan-pelayanan dalam pekerjaan rumah tangga, serta beban untuk memberikan kelangsungan hidup melalui bekerja.
Keberlangsungan sebuah keluarga itu tergantung pada bagaimana perempuan dapat bekerja guna memenuhi kebutuhan untuk keperluan hidup mereka. Maka perlu juga dibahas dalam bab ini mengenai perempuan dan pekerjaan.
2.1.4   Peran Ganda Perempuan Single parent
Pengasuhan dan pekerjaan wanita
Peran-peran penasuhan bagi wanita merupakan dimensi-dimensi yang tumpah-tindih, baik pada pekerjaan yang dibayar maupun tak dibayar. Sebagai juru rawat pembantu, pekerjaan sosial, guru pertama masa kanak-kanak dan pekerjaan pengasuh anak, sebagai ibu dan sebagai anak perempuan, wanita memikul tanggung jawab atas pemeliharaan emosi dan fisik orang-orang lain. Para periset kualitatif telah menguraikan. “lipatan” kehidupan wanita bergerak dari pengasuh di dalam ruma mereka ke pengasuh ke dalam angkatan kerja atau pekerjaan sukarela. “Kehidupan mereka tidaklah terdiri atas susunan yang mudah dilihat, bagaian-bagian ruangan tersendiri”, tetapi lebih merupakan jalinan aktivitas yang saling tergantung (statham, Miller, dan Mauksch: 1998 dalam Ollenburger, dkk, 1996:112).
Dalam (Etzioni, 1969 dalam  Ollenburger, dkk, 1996:113) mengatakan bahwa mengajar, merawat, menata perpustakaan, dan bekerja sosial, bukanlah profesi sejati.
Manajemen Keluarga pada Keluarga Berstatus Single parent
Orang tua sebagai single parent harus menjalankan peran ganda untuk keberlangsungan hidup keluarganya. Sebagai single parent, wanita harus mampu mengkombinasikan dengan baik antara pekerjaan domestik dan publik. Dalam hal ini, kematangan fisik dan psikologis merupakan faktor yang sangat vital dibutuhkan untuk melakukan manajemen keluarga.
Wanita yang berstatus single parent dimana ia harus mencari uang untuk menafkahi keluarganya dan juga harus memenuhi kebutuhan kasih sayang keluarganya harus melakukan perencanaan yang matang dalam pengorganisasian kegiatanya menjalankan peran ganda. Dalam melakukan perencanaan tersebut, ia harus mengkomunikasikan rencana yang telah ia buat pada keluarga terdekatnya (orang tua, paman atau bibi), terutama yang akan dimintai bantuan nantinya.
Setelah dilakukan perencanaan, maka ia harus melaksanakan rencana yang telah ia buat. Apabila diperlukan, maka ia bisa juga meminta bantuan pada keluarga terdekatnya untuk membantu kegiatan keluarganya selama ia diluar rumah untuk mencari nafkah, tentunya ia harus mengkomunikasikan hal ini sebelumnya dengan orang yang bersangkutan.
Hal terakhir yang harus dilakukan dalam memanajemen keluarga yang berstatus single parent adalah dengan mengevaluasi semua kegiatan yang telah berlangsung di keluarga. Evaluasi diperlukan untuk meninjau apakah kegiatan keluarga yang telah berlangsung, terutama yang dihandle oleh anggota keluarga yang lain sesuai dengan harapannya atau tidak. Disamping itu, evaluasi juga dibutuhkan membenahi perencanaan keluarga selanjutnya.
Manajemen Wanita sebagai Single parent dalam Membentuk Anak yang Berkualitas.  Membentuk anak yang berkualitas merupakan tugas dari semua orang tua, begitu pula dengan single parent. Akan tetapi, ada beberapa hal khusus yang harus dilakukan oleh single parent agar anaknya berkembang sama seperti anak-anak pada keluarga lengkap. Hal tersebut antara lain sebagai berikut:
Ø  Pengganti Figur Orang Tua yang Hilang
Wanita sebagai single parent harus mampu menjadi ibu bagi ana-anaknya sekaligus memenuhi kebutuhan anaknya akan figur seorang ayah. Menjalankan dua peran tersebut bukanlah hal yang mudah.  Dalam kasus single parent, wajib hukumnya bagi ayah atau ibu yang menjadi orang tua tunggal untuk tetap menghadirkan sosok ayah atau ibu yang tidak ada selama membesarkan anak-anaknya.
Ø  Alokasi Waktu yang Efektif
Menjadi single parent sebetulnya mempunyai sisi baik dari segi keleluasaan waktu yang dimiliki. Ibu/Ayah, hanya berperan membesarkan anak, tidak ada suami/Istri yang harus dilayani dan dimanja-manja,seperti ketika  Ayah dan Ibu berada satu atap. Dengan demikian seorang single parent memiliki kelebihan waktu.
Wanita sebagai single parent yang menjalankan peran negative dan publiknya secara bersamaan harus memiliki manajemen waktu yang efektif. Apabila ia berada di tempat kerja, maka ia harus mengkonsentrasikan diri sepenuhnya pada pekerjaannya, dan sebaliknya, apabila ia telah berada di rumah, maka ia harus mencurahkan seluruh perhatiannya terutama pada anak-anaknya. Ia harus menemani anaknya makan, belajar, ataupun membacakan dongeng sebelum tidur.
Ø  Komunikasi dengan Anak Harus Selalu Dijaga
Manusia sanggup mencintai dan dicintai, ini adalah hal esensial bagi pertumbuhan kepribadian. Kehangatan persahabatan, ketulusan kasih, dan penerimaan orang lain amat dibutuhkan manusia. Anak sangat membutuhkan kasih  dari kedua orang tuanya. Kasih yang tidak terpenuhi akan menimbulkan perilaku anak yang kurang baik. Anak akan menjadi agresif, kesepian, frustrasi, bahkan mungkin bunuh diri. Kondisi seperti itu sangat rentan terjadi pada anak dengan kondisi keluarga single parent. Maka orang tua perlu berkomunikasi dengan anak, agar dia tidak merasa kesepian. Orang tua mendengarkan cerita anak, dan sebaliknya orang tua juga menceritakan apa yang sedang dia alami. Jadikan anak sebagai sahabat, agar masing-masing pihak saling mengerti dan memahami situasi yang dialami.
Ø  Menerapkan Disiplin
Penerapan disiplin pada keluarga single parent menjadi lebih mudah dilaksanakan karena hanya ada satu sumber komando dari Ibu atau Ayah saja. Pada kasus wanita sebagai single parent, anak akan mendapatkan disiplin dari ibunya saja. Akan akan lebih mudah untuk mengerti disiplin yang ditetapkan di keluarganya. Yang perlu diperhatikan adalah, ibu harus menerapkan disiplin yang ada dengan tegas sekaligus penuh kasih sayang. Selain itu, ibu perlu mengkomunikasikan disiplin yang berlaku pada anggota keluarga lain yang membantunya menggantikan figur seorang ayah bagi anaknya.
Ø  Menjaga Hubungan Interpersonal dengan Anak
Dalam keluarga single parent, hubungan interpersonal antara orang tua dengan anak sangatlah penting untuk dijaga. Menjaga hubungan interpersonal dengan anak dapat dilakukan dengan menjaga komunikasi serta meluangkan waktu khusus bersama anak. Hubungan antara anak dengan orang tua menjadi faktor penentu utama dalam keberhasilan anak berperilaku prososial ketika berinteraksi di lingkungan sosial yang lebih luas Oleh karena itu, hubungan yang terjalin dengan baik antara orang tua dengan anak menentukan keberhasilan anak dalam menjalin hubungan secara interpersonal dengan orang lain.
Ø  Persepsi Positif Terhadap Anak
Kadangkala sebagian single parent, wanita merasa stress dengan beragam pekerjaan yang menumpuk di kantor ditambah lagi dengan kerumitan permasalahan rumah tangga, terutama yang berkaitan dengan anak yang rewel. Kondisi tersebut seringkali menyebabkannya berpersepsi negatif (menganggap anak ini  nakal, makannya rewel, tidak menghargai waktu saya dan berbagai persepsi awal  negative lainnya) terhadap anak yang dapat menyebabkannya melakukan perbuatan kasar terhadap anak (seperti mencubit, memukul, memarahi, dll). Tanpa kita sadari persepsi negatif mampu memberikan dampak yang buruk bagi perkembangan anak serta kepribadian anak pada masa dewasanya.
Persepsi mengarahkan tindakan kita. Tindakan kita akhirnya  memicu reaksi dari anak. Reaksi dari anak akan memicu pemikiran tertentu. Pemikiran ini akan membentuk persepsi anak tentang dirinya sendiri. Akhirnya  konsep diri anak terbentuk.
Berdasarkan ilustrasi diatas, jelaslah bahwa peranan orang tua sangat besar dalam membentuk konsep diri anak. Maka dapat disimpulkan bahwa wanita sebagai single parent haruslah selalu menjaga persepsi positif pada anak jika ingin memiliki anak yang berkualitas.
Wanita sebagai single parent saat ini telah banyak dijumpai pada berbagai negara di seluruh penjuru dunia. Sebagai single parent, wanita harus mampu mengkombinasikan peran ganda yang harus dijalankannya, terutama dalam menjalankan tugas utamanya, yakni membentuk anak yang berkualitas. Untuk mencapai tujuan tersebut, maka ia harus melakukan manajemen sumberdaya keluarga yang terencana dan dilaksanakan secara konsisten. Manajemen sumberdaya keluarga tersebut sangat penting untuk dilaksanakan agar semua kebutuhan anak dapat terpenuhi yang pada akhirnya padat membentuk anak yang berkualitas. Berikut ini adalah beberapa tips yang berguna bagi orang tua terutama wanita sebagai single parent dalam membesarkan anak-anaknya.

2.2       Landasan teori (kerangka teoritis)
Penelitian mengenai “Peran Ganda Perempuan Single parent Yang Timbul Akibat Perceraian” ini merupakan penelitian terhadap sebuah realitas sosial yang ada.  Dalam penjelasan ontology paradigma konstruktivis, realitas merupakan konstruksi sosial yang diciptakan oleh iidividu.
Dalam sosiologi itu memiliki beberapa paradigma. Paradigma merupakan suatu pandangan mendasar dari suatu disiplin ilmu tentang apa yang menjadi pokok persoalan (subject matter) yang semestinya dipelajarinya (a fundamental image a discipline has of its subject matter), (Ritzer, 2003:6).  Dalam ilmu sosiologi terdapat banyak paradigma (multiple paradigm) yaitu: fakta sosial, definisi sosial dan perilaku sosial.
Untuk melihat masalah-masalah peran ganda perempuan single parent, dalam penelitian ini digunakan paradigma perilaku sosial. Paradigma perilaku sosial ini memusatkan perhatiannya kepada hubungan antar individu dengan lingkungannya.
Dalam penelitian mengenai permasalahan yang saya angkat, saya menggunakan itu berbicara mengenai peran ganda perempuan single parent yang terjadi akibat perceraian dan ini merupakan faktor penting dalam kehidupan seorang perempuan single parent, dan ini merupakan bagian yang menyangkut masyarakat, keluarga dan anak-anak. paradigma perilaku sosial . Sosiologi perilaku sosial, secara pokok persoalan sosiologi menurut paradigma ini adalah tingkahlaku individu yang berlangsung dalam hubungan dengan faktor lingkungan yang menghasilkan akibat-akibat atau perubahan dalam faktor lingkungan yang menimbulkan perubahan terhadap tingkahlaku (Ritzer, 2003: 69).
Teori yang saya gunakan dalam menjelaskan masalah ini adalah teory behavioral sociology. Teori ini dibangun dalam rangka menerapkan prinsip-prinsip psikologi perilaku ke dalam sosiologi. Teori ini memusatkan perhatiannya kepada hubungan atara akibat dari tingkahlaku yang terjadi di dalam lingkungan aktor dengan tingkah laku aktor. Akibat-akibat tingkah laku diperlakukan sebagai variabel independen. Ini berarti bahwa teori ini berusaha menerangkan tingkalaku yang terjadi itu melalui akibat-akibat yang ditimbulkan. Akibat dari tingkahlaku yang terjadi di masa lalu mempengaruhi tingkahlaku yang terjadi di masa sekarang. Konsep dasar behavioral sociology yang menjadi pemahamannya adalah “reinforcement” yang  dapat diartikan sebagai ganjaran (rewad) (Ritzer, 2003: 73).
Dari pejelasan mengenai teori di atas maka jika dikaitkan dengan permasalahan yang saya angkat maka perceraian terjadi merupakan akibat perilaku dari luar individu maupun lingkungannya, perceraian ini merupakan suatu ganjaran (reward) yang menimbulkan perpisahan dan menimbulkan (menciptakan) bentuk keluarga baru yaitu keluarga single parent. Terbentuknya keluarga single parent ini merupakan suatu hukuman (punishment) yang menimbulkan kejeraan pada aktor.  Suatu perilaku yang menimbulkan hukuman ini tentunya tidak akan diulangi, karena single parent merupakan suatu kegagalan (dianggap oleh masyarakat).
Akibat terbentuknya keluarga single parent maka akan menimbulkan kekacauan terhadap pencapaian atau menjalankan fungsi keluarga. Salah satu pihak (single parent) akan memiliki peran ganda. Dalam permasalahan yang saya angkat mengenai peran ganda perempuan single parent yang timbul akibat perceraian maka, perempuan single parent ini akan melaksanakan peran ganda yaitu sebagai pencari nafkah dan pengasuh anak-anaknya (apabila dalam penyelesaian kasus perceraian anak masih di bawah asuhan ibu atau anak lebih memilih tinggal bersama ibu). tentunya dalam menjalankan peran-peran tersebut terdapat permasalahan-permasalahan yang akan timbul seperti: fungsi keluarga atau peran yang harus dijalankan tidak akan berjalan optimal karena asumsinya perempuan telah disibukkan dengan peran mencari nafkah akibat terputusnya ikatan pernikahan (perceraian).

BAB III
METODE PENELITIAN
3.1       Pendekatan Penelitian
Dalam penelitian mengenai “Peran Ganda Perempuan Single parent Yang Timbul Akibat Perceraian”, saya menggunakan penelitian kualitatif. Penelitian kualitatif, merupakan penelitian yang mengutamakan kualitas data (Kamanto, 2004: 238).  Penelitian itu diartikan sebagai upaya dalam bidang ilmu penegtahuan yang dijalankan untuk memperoleh fakta-fakta dan primsip-prinsip dengan sabar, hati-hati dan sistematis untuk mewujudkan kebenaran. Dalam penelitian kualitatif ini selalu berangkat dari hal yang sangat khusus (induktif), pesan yang diampaikan, runtut atau tidakan dan indikator dari permasalahan yang ada harus runtut. Ini agar ketika melakukan penelitian dan mendeskripsikan ke sebuah karya akan menjadi suatu tulisan yang runtut agar tidak membingungkan pembaca.
Dalam penelitian dituntut untuk mengetahui dan menerapkan cirri-ciri dan prinsip-prinsip sebagai berikut (Mardalis, 2009:24).
a)      Penelitian perlu dirancang dan diarahkan guna memecahkan sesuatu masalah tertentu. Yang pada akhir penelitian hasilnya dapat menjawab masalah tersebut.
b)      Penelitian tekanannya untuk mengembangkan generalisasi prinsip-prinsip, serta teori. Dengan demikian hasilnya pempunyai nilai deskripsi dan prediksi. Dalam hubungan ini, penemuan terfokus pada suatu objek, kelompok atau situasi tertentu yang spesifik.
c)      Berangkat dan bermula pada masalah atau objek yang diteliti atau diobsevasi. Prosedur penelitian tak dapat digunakan untuk menjawab masalah yang tak bisa diobservasi dan tak mempunyai bukti empiris.
d)     Penelitian memerlukan observasi dan deskripsi yang akurat. untuk itu, peneliti harus mendeskripsikan dengan cermat.
3.2       Metode penelitian yang dipilih dan yang akan digunakan dalam penelitian
Metode di sini diartikan sebagai suatu cara atau teknis yang dilakukan dalam proses penelitian.  Dalam penelitian yang ingin saya lakukan saya menggunakan metode penelitian kualitatif deskripti. dalam penelitian deskriptif itu bertujuan untuk mendeskripsikan apa yang saat ini berlaku. Di dalamnya terdapat upaya mendeskripsikan, mencatat, analisis dan menginterprestasikan kondisi-kondisi yang sekarang ini terjadi atau ada. Dengan kata lain penelitian deskriptif bertujuan untuk memperoleh informasi-informasi menegnai keadaan saat ini, dan melihat kaitan antar variabel-variabel yang ada. Penelitian ini tidak menguji hipotesa dan tidak menggunakan hipotesa, melainkan hanya mendeskripsikan informasi yang apa adanya sesuai dengan variabel-variabel yang diteliti (Mardalis, 2009:25).
3.3       Tekinik-teknik pengumpulan data yang akan digunakan
A.    Observasi (Pengamatan)
Observasi atau pengamatan digunakan dalam rangka mengumpulkan data dalam suatu penelitian, merupakan hasil perbuatan jiwa secara aktif dan penuh perhatian untuk menyadari adanya sesuatu rangsangan tertentu yang diinginkan, atau suatu studi yang disengaja dan sistematis tentang keadaan/fenomena sosial  dan gejala-gejala psikis dengan jalan mengamati dan mencatat.
Yang dilakukan waktu penamatan adalah mengamati gejala-gejala sosial dalam kategori yang tepat, mengamati berkali-kali dan mencatat segera dengan memakai alat Bantu seperti alat pencatat, tape recorder, handycam, dan lain sebagainya.
Dalam penelitian ini saya akan menggunakan observasi partisipasi, artinya pengamat ikut terlibat dalam kegiatan yang sedang diamatinya sambil ikut berperan dalam kegiatan tersebut. Namun yang perlu diperhatikan dalam obserpasi partisipasi adalah agar si pengamat jangan lupa tugas pokoknya yaitu mengamati, mencari data, bukan untuk bermain. Keikutsertaan bersama dalam memperoleh data adalah hanyalah cara untuk mengamati lebih mendalam  atau penghayatan yang mendalam, agar memperoleh data yang sebenarnya.
Namun dalam melakukan pengamatan, pengamat (peneliti)  harus mempunyai konsep lebih dulu yaitu konsep tentang hal-hal apa saja yang diperlukan untuk diamati, bagian-bagian mana yang diperlukan, berapa banyak yang diperlukan. Untuk itu dibutuhkan persiapan berupa daftar pertanyaan berupa check-list atau gambaran pokok-pokok persoalan apa saja yang diperlukan untuk diamati dan yang perlu dicatat. Dengan demikian betapapun menariknya sesuatu gejala yang diamati, jika tidak berkaitan dengan data yang dibutuhkan dapat diabaikan, hingga pengamat dapat merumuskan perhatiannya pada persoalan pokok yang diteliti.
B.     Wawancara (Intervieu)
Wawancara adalah teknik pengumpulan data yang digunakan peneliti untuk mendapatkan keterangan-keterangan lisan melalui bercakap-cakap dan berhadapan muka dengan orang yang dapat memberikan keterangan pada si peneliti. Wawancara ini dapat dipakai untuk melengkapi data yang dapat diperoleh melalui observasi.
Jika peneliti akan menggunakan teknik wawancara dalam penelitian , perlu diketahui lebih dulu; sasaran, maksud, dan masalah apa yang dubutuhkan sepeneliti, sebab dalam suatu wawancara dapat di peroleh keterangan yang berlainan dan adakalanya tidak sesuai dengan maksud peneliti.
Waktu mempersiapkan wawancara dengan responden perlu di perhatikan hal-hal sebagai berikut:
1)      Responden yang akan diwawancarai sebaiknya diseleksi agar sesuai dengan data yang dibutuhkan.
2)      Waktu berwawancara sedapatnya dilakukan sesuai dengan kesediaan responden.
3)      Permulaan wawancara sebaiknya peneliti memperkenalkan diri dan menjelaskan maksud dan tujuan wawancara dilakukan.
4)      Sedang berwawancara peneliti sebaiknya berlaku seperti orang ingin tahu dan belajar dari  responden dan jangan seperti orang yang mengguru-gurui terhadap responden. Hal ini penting untuk kelancaran wawancara.
5)      Jangan sampai ada pertanyaan-pertanyaan yang tak diinginkan oleh responden (membuat responden malu).
6)      Peneliti sebaiknya menunjukan perhatian penuh terhadap pembicaraan responden, kalau terjadi pengalihan pembicaraan oleh ersponden, peneliti dengan hati-hati meluruskannya ke sasaran pokoknya.
7)      Melakukan penutupan pembicaraan, ucapan terima kasih.
Pedoman wawancara perlu dipersiapkan, agar hal-hal seperti tersebut diatas dapat dipenuhi. Pedoman wawancara ini ada dua macam, yaitu pertanyaan-pertanyaan yang berstruktur dan tidak berstruktur. Yang berstruktur dimaksudkan  adalah jawabannyan telah disediakan lebih dahulu, sedangkan responden tinggal memilih diantara jawaban yang disediakan. Namun dalam penelitian yang ingin saya lakukan ini, saya menggunakan pertanyaan yang tidak berstruktur, atau pertanyaan terbuka yang memungkinkan responden untuk menjawab sesuai dengan keinginannya dan komentarnya.
3.4       Rumusan definisi konsep dan definisi operasional (definisi kerja).
Dalam rumusan definisi konsep dan dimensi operasional ini berisi mengenai aspek penelitian, konseptualitas, definisi kerja penelitian, sumber informan dan teknik pengumpulan data.
Konseptualisasi dan definisi kerja (operasional) yang di pergunakan dalam penelitian ini adalah:

KONSEPTUALISASI DAN DEFINISI KERJA PENELITIAN
NO.
ASPEK PENELIAN
KONSEPTUALITAS
DEFINISI KERJA PENELITIAN
SUMBER INFORMAN
TEKNIK PENGUMPULAN DATA
1.




















Gambaran kehidupan kaum perempuan single parent.



















Gambaran latar belakakang kehidupan waria dan latar belakang kehidupan keluarga single parent (perempuan single parent), kegiatan sehari-hari yang dilakukan oleh perempuan single parent.









Dilihat dari:
-          Hal-hal yang melatar belakangi keputusan seorang perempuan menjadi single parent.
-          Sikap hidip, perbuatan, dan tindakan yang dilakukan oleh kaum perempuan single parent dalam keseharian baik pada saat berinteraksi dengan sesama perempuan single parent maupun individu yang bukan perempuan single parent.

Perempuan single parent yang bekerja diluar (publik dan domestik) dan perempuan ini memiliki anak yang diasuhnya (anak menjadi tanggungan si perempuan single parent.
Observasi dan wawancara
2.

















3.
Gambaran peran ganda perempuan single parent.
















Solidaritas kelompok perempuan single parent di tengah masyarakat.


Gambaran peran perempuan single parent yaitu peran di domestik dan dipublik (pencari nafkah).












Berbagai bentuk solidaritas yang dimiliki oleh kaum perempuan single parent.
Dilihat dari:
-          Pekerjaan yang dilakukan sehari-hari oleh perempuan single parent baik pekerjaan di domestik maupun pekerjaan di publik.
-          Kesulitan-kesulitan perempuan single parent dalam menjalankan peran-perannya itu.





Dilihat dari:
-          Bentuk-bentuk solidaritas  kaum perempuan single parent.
-          Upaya solidaritas kelompok kaum perempuan single parent dalam mengatasi berbagai permasalahan kaum perempuan single parent.


Perempuan single parent yang bekerja diluar (publik dan domestik) dan perempuan ini memiliki anak yang diasuhnya (anak menjadi tanggungan si perempuan single parent.








Perempuan single parent yang bekerja diluar (publik dan domestik) dan perempuan ini memiliki anak yang diasuhnya (anak menjadi tanggungan si perempuan single parent.
Observasi dan wawancara














Observasi dan wawancara




3.5       Kriteria penentuan informan dan subjek penelitian
Penentuan subjek maupun informan penelitian menggunakan pertimbangan snowball sampling (berkembang mengikuti informan atau data yang dilakukan) sehingga memungkinkan melibatkan pihak dari luar lokasi penelitian yang dipandang mengerti dan memahami kehidupan individu-individu sebagai anggota masyarakat lokasi penelitian. Di samping itu, peneliti tidak mungkin dan tidak boleh sejak awal membatasi subjek atau informan penelitian sebelum pengumpulan data dilakukan. Proses penggalian data juga mempertimbangkan model triagulasi. Data penelitian direkam dan dicatat melalui teknik pengamatan langsung dan wawancara mendalam tak berstruktur. Dokumentasi juga digunakan sebagai teknik pengumpulan data penunjang (Bungin, 2001: 144).
            Adapun kriteria dari penentuan informan yaitu:
a)      Perempuan yang telah bercerai atau berstatus single  parent (janda).
b)      Perempuan tersebut bekerja (mencari nafkah) publik dan juga di domestik.
c)      Perempuan mempunyai anak dan  anak menjadi tanggungan si perempuan single parent ini.
Dari perempuan single parent yang diakibatkan oleh adanya sebuah perceraian diperoleh tentang kesiapan mereka menjadi single parent dan peran-peran ganda mereka yang harus mereka jalankan.
Informan dalam penelitian ini adalah informan kunci, yang termasuk informan-informan kunci adalah pegawai negeri yang mengurusi atau mengatasi masalah perceraian yang terjadi sehingga menimbulkan terbentuknya keluarga single parent yang membuat perempuan single parent memiliki peran ganda.



3.6       Teknik analisis data
Sesuai dengan pendekatan penelitian, maka analisis yang digunakan adalah analisis deskriptif. Data yang terkumpul dideskripsikan dan dianalisis dengan cara diklasifikasikan dan diinterprestasikan secara kualitatif dari awal hingga akhir penelitian.
Analisa data menurut Patton (dalam Moleong, 3003: 103) dalam (Yulia, 2008:48) merupakan proses pengorganisasian data, mengurutkan data ke dalam pola kategori dan satuan uraian dasar sehingga dapat ditemukan tema dan dapat dirumuskan hipotesis kerja seperti yang disarankan sehingga memperoleh informasi yang mendalam tentang objek-objek yang akan diteliti.
Metode analisa data yang digunakan adalah analisa deskriptif kualitatif. Analisa ini berisikan pendeskripsian (menggambarkan) dengan rinci dan ukuran terhadap sesuatu yang akan diteliti dan dialami peneliti dilapangan (faisal, 1990: 82 dalam Yulia, 2008:48). Pengolahan dan analisis data dimulai dari hasil pengamatan atau observasi, hasil wawancara lalu diklasifikasikan dan memilah-milah  sampai pada menyajikannya.

Daftar Pustaka
Anonimous. 1995. Kamus bahasa bahasa Indonesia. Departemen Pendidikan dan kebudayaan. Jakarta: Balai Pustaka
Bungin, Bungin. 2001. Metode Penelitian Kualitatif. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada
Bungin, Burhan. 2001. Metodologi Penelitian Kualitatif. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada
Goode, Willian J. 1985. Sosiologi Keluarga. Jakarta: PT. Bina Aksara
Hendi, Suhendi, Dkk. 2001. Pengantar Studi Sosiologi Keluarga. Bandung: Pustaka Setia
Kamanto, sunarto. 2004. Pengantar Sosiologi. Jakarta: Fakultas Ekonomi UI
Mardalis. 2009. Metode Penelitian Suatu Pendekatan Proposal. Jakarta: Bumi Aksara
Olenburger, Dkk. 1996. Sosiologi Wanita. Jakarta: PT. Rineka Cipta
Ritzer, George. 2003. Sosiologi Ilmu Pengetahuan Berparadigma Ganda. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada
Yulia. 2008. Penyiapan Pengetahuan Remaja Tentang Menstruasi (Penelitian pada remaja keluarga suku lembak, di desa Talang empat, kecamatan karang tinggi, kabupaten Bengkulu utara). Skripsi UNIB. Bengkulu.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar