Selasa, 29 November 2011

PENDAPATAN RENDAH YANG BERDAMPAK PADA KEMISKINAN YANG TERJADI PADA MASYARAKAT PETANI SAYUR DUSUN TALANG MARKISA KECAMATAN SELUPU REJANG KABUPATEN REJANG LEBONG PROVINSI BENGKULU

Pendapatan rendah pada petani sayur merupakan realitas sosial yang terjadi saat ini. Pendapatan merupakan suatu aspek pokok dalam pemenuhan kebutuhan sehari-hari. maka apabila pendapatan itu rendah banyak hal yang akan terkena dampak. Seperti yang dijelaskan dalam teori fungsionalisme structural bahwa menurut teori ini masyarakat merupakan suatu sistem sosial yang terdiri atas bagian-bagian atau elemen yang saling berkaitan dan saling menyatu dalam keseimbangan. Perubahan pada satu bagian akan membawa pula perubahan pada bagian lain. seperti yang terjadi pada fakta yang kami akan kemukakan tentang pendapatan rendah pada petani sayur di Dusun Talang Markisa Kecamatan Selupu Rejang Kabupaten Rejang Lebong Propinsi Bengkulu. Bahwa rendahnya pendapatan pada petani sayur tentunya akan memepengaruhi berbagai aspek yang ada dalam kehidupan petani sayur itu.
Dusun Talang markisa merupakan dusun yang terletak tepat dibawah kaki bukit kaba yang merupakan sektor pariwisata di kabupaten ini serta dusun ini merupakan kawasan konservasi hutan lindung dan gajah yang sangat dijaga walaupun terkadang masih ada oknum yang menjarah hutan di daerah ini. Terlepas dari hal itu, di Dusun Talang Markisa ini terdapat 53 KK (Kepala Keluarga) yang menggeluti mata pencaharian sebagai petani sayur. Mata pencaharian ini merupakan mata pencaharian utama untuk membiayai dan untuk kelangsungan kehidupan mereka.
“Petani Sayur”, kata orang adalah kehidupan yang paling makmur karena sayur untuk konsumsi sehari-hari dapat mengambil sayur dari hasil pertanian sendiri namun pada kenyataannya tidak demikian didusun talang markisa sayur hasil pertanian mereka sebenarnya bukan milik mereka, artinya kebanyakan dari mereka bekerja dilahan milik orang lain yang pembagian hasilnya setelah penjualan. Berdasarkan hasil FGD (Focus Discussion Group) dengan masyarakat Dusun Talang Markisa menunjukkan bahwa penghasilan petani sayur dalam sebulan hanya mencapai Rp 500.000/bulan  (lihat tabel Matrik Ranking Pendapatan Hasi CBD Sosiologi Unib Tahun 2010). Bandingkan saja pendapatan mereka dengan biaya yang harus mereka keluarkan per bulannya. Seimbangkah??? Sebagai contoh untuk membeli sembako mereka harus mengeluarkan uang dua kali lipat jumlahnya dari harga standar pasaran. Di mana harga beras yang standarnya Rp 9.000,- per kg-nya, di dusun talang markisa dijual degan harga Rp 15.000,-. Mereka membeli beras karena mereka tidak menanam padi ini di karenakan ketiadaan sumber air yang banyak. Sungguh menakjubkan…
Selain harga sembako yang mahal permasalahan lainnya adalah tarif jasa transportasi yag tinggi. Biaya yang harus dikeluarkan untuk jasa transportasi menuju dusun ini Rp 15.000 dan jika pulang pergi maka biaya transportasi yang dikeluarkan adalah Rp. 30.000, ini diakibatkan  karena fasilitas jalan menuju dusun ini sangat rusak parah sehingga kendaraan sulit untuk mengakses dusun ini. Ini berdampak pada pemasaran hasil panen mereka kesulitan untuk memasarkan hasil panen mereka karena biaya transportasi yang mereka harus keluarkan sangat mahal oleh karena itu mereka lebih memilih menjual hasil panen mereka kepada toke, selain mengurangi biaya tidak membuang waktu mereka yang seharusnya di alokasikan untuk bekerja di ladang.
Dari ke-2 paragraf sebelumnya mengambarkan bahwa komunitas petani sayur Dusun Talang Markisa ini masih mengalami kemiskinan. Hal ini dibuktikan dengan tingginya biaya hidup di sana yang tidak seimbang dengan penghasilan yang dihasilkan. Tingginya biaya hidup ini jelas akan mempengaruhi aspek mendasar atau kebutuhan dasar manusia lainnya, yakni pendidikan dan kesehatan.
Pendidikan dan kesehatan komunitas petani sayur Dusun Talang Markisa  masih rendah. Kondisi ini  tidak hanya disebabkan oleh kemiskinan, tetapi juga karena lokasi desa ini yang terpencil, jaraknya yang jauh (marjinal) dan fasilitas jalan yang rusak. Termarjinalnya dusun talang markisa merupakan alasan yang cukup logis untuk menjawab keterbatasan sarana dan prasarana di bidang pendidikan dan kesehatan. Di Dusun ini tidak terdapat satu sekolah pun baik SD, SMP, apalagi SMA. mereka yang bersekolah harus berjalan kaki sejauh ± 2KM atau 45 menit waktu yang diperlukan, karena sekolah yang ada berada di Desa Sumber Urip. Sekolah yang ada pada Desa Sumber Urip ini hanya SD dan SMP. jika ingin melanjutkan kejenjang SMA mereka harus bersekolah di Kota (Curup). karena itu mengapa keanyakan mereka hanya  bersekolah sampai jenjang SD dan SMP, karena untuk melanjutkan kejenjang SMA biaya yang dibutuhkan sangat besar (tempat tinggal, biaya sekolah, makan dan lain sebagainya). di dusun ini belum adanya fasilitas kesehatan seperti pukesmas, pukesmas pembantu (pustu), bidan desa, dan dokter. Untuk menanggulangi masalah kesehatan masyarakat di dusun ini mengandalkan Dukun, obat tradisional, obat warung dan jika penyakit yang diderita dinilai parah mereka memeriksakannya ke puskesmas pembantu (pustu) yang letaknya berada didesa sumber Bening. layanan kesehatan di dusun sekarang hanya ada kunjungan rutin bidan desa per bulan dalam rangka kegitan posyandu walaupun realitanya kunjungan tidak dilakukan secara rutin.
“Kemiskinan dan marginalisasi” itulah kata yang dilabelkan pada komunitas petani sayur di Dusun Talang Markisa. Namun, di tengah-tengah kondisi yang demikian komunitas ini masih tetap bertahan. Dengan berbagai keterbatasan dan ketidakberdayaan, mereka tetap bersuka cita menatap masa depan di desa ini. Lantas, bagaimanakah strategi yang mereka lakukan dalam menghadapi dinamika kehidupan?
Untuk tetap bertahan hidup masyarakat di Dusun Talang Markisa tidaklah sulit alias gampang-gampang susah saja asalkan ada keberanian. kalimat inilah yang keluar dari beberapa penduduk ketika ditanya tentang cara bertahan hidup di dusun  yag mereka tempati. “Semudah itukah?” dan “Bagaimana caranya?... selama mereka menunggu hasil panen dari pertaniannya mereka terkadang harus mengutang kepada toke atau juragan yang lahannya mereka olah dan mereka membayar utang itu ketika nanti mereka panen artinya pendapatan yang mereka dapat selain untuk memenuhi kebutuhan juga di alokasikan untuk membayar hutang. Selain itu petani dalam mengolah lahan sekarng ini sangat tergantung dengan pupuk baik Kimia maupun Organik. Untuk pupuk Organik mereka menyediakan atau membuat sendiri sedangkkan untuk pupuk Kimia disediakan oleh si pemilik lahan atau juragan. alat produksi lainnya yang mereka gunakan adalah cangkul, arit, sengkuit, sabit, alat penyemprot hama atau pupuk yang harus mereka sediakan sendiri atau meminjam dengan tetangga yang memiliki alat-alat itu.
“Ngutang” itulah kata yang tepat untuk menjawab pertanyaan di atas. Ngutang merupakan istilah lain dari meminjam atau menghutang. Di mana seseorang meminta bantuan orang lain untuk membiayai kebutuhannya dengan syarat dia harus mengembalikannya sesuai dengan kesepakatan. Adapun orang yang menjadi malaikat penyelamat para petani ini adalah pemilik warung dan toke (orang yang membeli hasil panen dari para petani untuk dijual kembali pada pihak yang membutuhkan).
Pemilik warung dan toke di dusun talang markisa  merupakan orang-orang yang berjasa dalam membantu perputaran roda perekonomian komunitas petani sayur di daerah ini. Keberadaan mereka telah membantu komunitas dalam melangsungkan kegiatan pertanian  (bagi para petani yang tidak memiliki modal). Di mana sang toke menyiapkan lahan, modal walaupun uang sewa lahan dan modal produksi belum dibayar. Begitu juga dengan pemilik warung, mereka dengan rela hati memberikan utang barang dagangan dan meminjamkan uang kepada para petani  yang membutuhkan yng pembayarannya sesuuai dengan kesepakatan.
Keikhlasan pemilik warung dan toke memberikan utang pada para petani ini tidak semudah membalikkan telapak tangan. Dalam hal ini harus dibangun kepercayaan (trust) yang kuat antara kedua belah pihak yang bertransaksi. Memperoleh kepercayaan seseorang itu tidaklah dalam waktu yang singkat, tetapi dibutuhkan waktu yang relatif lama seperti dengan menjadi relasi kerja.
Seperti yang diungkapkan salah seorang pemilik warung di sana, bahwa dia  memberikan utang kepada seseorang karena dia telah mengenalnya dan seseorang itu membayar hutangnya sesuai dengan waktu yang dijanjikan. namun si pemilik warung tidak dapat memberikan hutang terlalu banyak karena keterbatasan modal yang ia miliki.
Kondisi yang demikian hampir sama bagi setiap pemilik warung dan toke. Di mana modal sosial itu merupakan harga mati dalam setiap transaksi. Tingginya modal sosial ini akan membentuk solidaritas sosial yang kuat pada komunitas tersebut. Dengan adanya modal sosial tersebut komunitas ini bisa bertahan.
Dari uraian di atas menggambarkan potret kehidupan komunitas petani sayur di Dusun Talang Markisa. Utang mereka pada pemilik warung dan toke akan dibayar bila mereka telah mendapatkan uangdari hasil bagi hasil yang mereka peroleh dari pemilik lahan dan modal. Dan mereka akan ngutang lagi bila mengalami kesulitan di bidang keuangan.
Dalam menghadapi kehidupan yang kian sulit (biaya hidup yang tinggi) tidak hanya ngutang  yang dilakukan oleh komunitas petani di Dusun ini. Mereka juga tidak hanya berpangku tangan, hanya mengandalkan penghasilan mereka dari mengolah lahan milik pemilik modal saja. Berbagai alternatif usaha dilakukan untuk menambah penghasilan pokok. “Walupun penghasilannya tidak seberapa, tetapi cukuplah untuk makan sehari-hari yang apa adanya.” demikian jawaban seorang petani penggarap ketika ditanya mengapa dia mau menggarap lahan milik orang lain.
Tidak hanya satu atau dua orang yang melakukan pekerjaan sampingan ini, tetapi jumlahnya tidak bisa dikatakan sedikit. Selain menjadi petani penggarap, kebanyakan masyarakat juga merangkap pekerjaan menjadi buruh petik, buruh garap, buruh merumput dan buruh angkut.  Seperti Buruh petik biasanya memperoleh upah Rp. 25.000/hari untuk jenis tanaman yang di petik adalah cabe, Buruh angkut biasanya memperoleh upah Rp. 12.000/per angkutan ini tergantung pada jarank yang akan ditempuh, dan upah buruh merumput biasanya Rp.35.000/hari.

Usaha sampingan lain yang dilakoni oleh petani sayur di dusun talang markisa ini adalah ternak, seperti ternak kelinci, kabing, ayam, dan bebek. Pendapatan yang diperoleh memang tidaklah terlalu menjanjikan, tetapi kalau untuk menutupi kekurangan belanja dapur, bisa dikatakan cukup membantu. Di mana pendapatan yang diperoleh dari usaha ternak seperti kelinci itu per ekornya untuk kelinci yang ukurannya masih kecil itu sepasang di jual dengan harga Rp. 70.000 dan yang besar mencapai Rp. 100.000/ pasangnya.
Sebagai mata pencaharian sampingan, usaha-usaha di atas tidaklah dilakukan setiap hari. Akan tetapi, pekerjaan ini akan dilakukan ketika ada waktu senggang atau ketika menunggu panen tiba. Tidak seperti petani yang dikerjakan oleh laki-laki dan perempuan, usaha sampingan ini juga bisa dikerjakan oleh perempuan seperti yang menjadi buruh merumput dan buruh petik adalah perempuan, contohnya buruh petik cabe adalah perempuan karena menurut masyarakat setempat agar cabe yang di panen tidak mudah busuk (lihat tabell Matrik Ranking Pendapatan Hasil FGD pada CDB Sosiologi Unib Tahun 2010).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar