Kesimpulan Hasil Penelitian: Di Kelurahan Malabero Kota Bengkulu
Dilihat dari tingkat pendidikan anak laki-laki nelayan pada 9 (sembilan) keluarga nelayan buruh di Kelurahan Malabero Kecamatan Teluk Segara Kota Bengkulu menduduki posisi yang rendah hampir seluruhnya hanya tamat SD/Sederajat (Sekolah Dasar) yaitu dengan persentase 88,89% namun ada pula yang tidak dapat menyelesaikan pendidikannya pada tingkat jenjang pendidikan SLTP/Sederajat (Tidak menamatkan) yaitu dengan persentase 11,11% dari jumlah anak laki-laki seluruh keluarga nelayan yang menajdi informan. Namun anak perempuan pada 9 (sembilan) keluarga yang menjadi informan telah selesai menamatkan pendidikan SD/Sederajat, sedang menjalani dan menamatkan jenjang pendidikan formal SLTP/Sederajat dengan persentase 27,78% dan sedang menjalani pendidikan pada jenjang SLTA/Sederajat dengan persentase 44,44% atau menamatkan pendidikan SLTA/Sederajat dengan persentase 27,78% dan sedang menjalani atau menamatkan pendidikan SLTA/Sederajat dari jumlah anak perempuan di seluruh keluarga nelayan yang menjadi informan.
Adapun penyebab yang melatar belakangi rendahnya pendidikan anak laki-laki pada keluarga nelayan (informan) di Kelurahan Malabero Kecamatan Teluk Segara Kota Bengkulu yaitu pertama, status usaha atau mata pencaharian pokok kepala keluarga yaitu sebagai nelayan buruh hanya menghasilkan pendapatan yang rendah.Pendapatan yang rendah diakibatkan rendahnya posisi tawar nelayan buruh dalam menjual hasil tangkapan, harga sepenuhnya ditentukan oleh tengkulak. Status usaha tambahan keluarga sebagai buruh pembuat ikan asin dan pengumpul limbah batu bara tidak menjanjikan pendapatan lebih besar dari pengeluaran keluarga. Pendapatan yang kecil diperoleh oleh nelayan buruh karena hasil tangkapan yang dibeli atau dijual kepada tengkulak dengan harga yang murah. Pengeluaran keluarga terbesar terletak untuk kebutuhan pokok atau makan (pola konsumsi keluarga). Akibat tuntutan kebutuhan yang banyak, untu menambah pendapatan keluarga anak laki-laki lebih dianjurkan untuk bekerja sejak kecil dari pada sekolah. Akibat pola kebiasaan seperti ini, membuat waktu belajar anak atau waktu sekolah anak akan tersita untuk bekerja mencari uang.
Kedua, rendahnya pendidikan anak laki-laki pada keluarga nelayan (informan) di Kelurahan Malabero disebabkan karena sifat pekerjaan yang keras sebagai nelayan yang diturunkan secara turun temurun kepada anak laki-laki selain itu anak nelayan yang dibentuk sebagai pencari nafkah.
Ketiga, rendahnya pendidikan anak laki-laki pada keluarga nelayan (informan) di Kelurahan Malabero disebabkan nilai anak yang dikembangkan didalam keluarga bahwa anak perempuan itu menjadi harapan keluarga yang kemudian nantinya akan merawat dan mengurus orang tua menjadikan anak-anak perempuan menjadi harapan orang.
Ketiga, masyarakat nelayan mengetahui mengenai program wajib belajar pendidikan dasar sembilan tahun yang dicanangkan oleh pemerintah, namun mereka masih diberatkan dengan biaya-biaya lainnya yang harus dibayar.
Kelima, faktor terakhir yang mengakibatkan rendahnya pendidikan anak laki-laki pada keluarga nelayan (informan) di Kelurahan Malabero disebabkan persepsi masyarakat nelayan terhadap pendidikan formal anak secara umum memiliki penilaian yang positif yaitu menganggap penting pendidikan formal untuk anak-anaknya. Namun, persepsi yang muncul tidak selalu menimbulkan perilaku untuk menyekolahkan ke jenjang yang lebih tinggi. Ini dibuktikan dengan rendahnya pendidikan anak laki-laki pada sembilan keluargan nelayan buruh di Kelurahan Malabero Kecamatan Teluk Segara Kota Bengkulu yang menjadi informan hanya dapat menyelesaikan pendidikan SD/Sederajat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar