Selasa, 29 November 2011

Konsep Masyarakat

Konsep Masyarakat
Apakah Masyarakat Itu?
Pertanyaan ini muncul apabila kita berbicara tentang struktur masyarakat. Dalam memahami tentang suatu konsep struktur masyarakat maka terlebih dahulu kita harus mengetahui  arti dari masyarakat itu sendiri.  Terdapat perbedaan dalam mendefinisikan masyarakat itu, di bawah ini adalah beberapa  definisi dari mayarakat yang didefinisikan oleh beberapa ahli yaitu:
Ø  Menurut Raph Linton (The study of Man, 1936-pg 191) dalam “Kelembagaan  dan Masyarakat “(Drs. Ngadiyono, 1984-pg 15) dikatakan bahwa masyarakat itu adalah setiap kelompok  manusia yang telah lama hidup dan bekerjasama, sehingga mereka itu dapat  mengorganisasikan  dirinya dan berfikir tentang dirinya sebagai suatu  kesatuan sosial dengan batas-batas tertentu.
Ø  Menurut JL Gilin (Cultural Sociologi, 1948) dalam “Kelembagaan dan Masyarakat “(Drs. Ngadiyono, 1984-pg 15) mengatakan bahwa masyarakat adalah sekelompok manusia yang tersebar, yang mempunyai tradisi/kebiasaan, sikap dan persatuan yang sama.
Ø  Menurut Mac Iver (Sociology, An Introductionary Analysis, 1955) dalam “Kelembagaan  dan Masyarakat “(Drs. Ngadiyono, 1984-pg 15) menyebutkan bahwa masyarakat adalah suatu sistem  dari cara kerja dan prosedur dari pada otoritas, dan saling membantu yang meliputi kelompok-kelompok  dan pembagian sosial  lain, sistem dari pengawasan tingkah laku manusia dan kebebasan.
Ø  Menurut Kingsley davis (Human Society, 1959, pg. 310) dalam “Kelembagaan  dan Masyarakat “(Drs. Ngadiyono, 1984-pg 16) mengatakan bahwa masyarakat adalah kelompok sosial terkecil  yang bertempat tinggal di daerah tertentu, yang di dalamnya mengandung seluruh aspek kehidupan sosial.
Ø  Menurut Philip Roup mengatakan (Approaches to Community Development, 1953, pg-4) dalam “Kelembagaan  dan Masyarakat “(Drs. Ngadiyono, 1984-pg 16) bahwa masyarakat adalah kelompok sosial yang mempunyai ciri-ciri: Kesamaan tempat tinggal, kesamaan sistem nilai dan kesamaan aktivitas dan pola-pola tingkah lakunya.
Dari sekian banyak definisi setiap masyarakat maka dapat disimpulkan bahwa masyarakat adalah sekelompok manusia yang bertempat tinggal di suatu daerah tertentu dan berinteraksi antara sesama anggota masyarakat (kelompoknya), memilki tujuan yang sama, memiliki nilai-nilai dan norma-norma yang dihormati bersama, mempunyai kesamaan perasaan (suka dan duka) dan memiliki organisasi yang ditaatinya.

Ciri-ciri Pokok Suatu Masyarakat
Dalam “Beberapa Teori Sosiologi tentang Struktur Masyarakat” (Oleh Prof. Dr. Soerjono Soekanto, S.H, M.A, pg-105) bahwa sebenarnya suatu masyarakat, merupakan suatu bentuk kehidupan bersama manusia, yang mempunyai ciri-ciri pokok, sebagai berikut:
1.      Manusia yang hidup bersama secara teoritis, maka jumlah manusia yang hidup bersama ada dua orang. Di dalam ilmu-ilmu sosial, khususnya sosiologi, tidak ada suatu ukuran yang mutlak ataupun angka yang pasti untuk menentukan berapa jumlah manusia yang ada.
2.      Bergaul selama jangka waktu yang cukup lama.
3.      Adanya kesadaran, bahwa setiap manusia merupakan bagian bagian dari  suatu kesatuan.
4.      Adanya nilai-nilai dan norma-norma yang menjadi patokan bagi perilaku yang dianggap pantas. Menghasilkan kebudayaan dan mengembangkan kebudayaan tersebut. 
Ciri/KriteriaMasyarakatYangBaik
Dalam (Organuisasi.org komunitas dan perpustakaan online, “pengertian masyarakat, unsur dan kriteria masyarakat dalam kehidupan sosial antar manusia”, Tuesday ; 10-06-2008 – 10.34pm-godam64) Menurut Marion Levy diperlukan empat kriteria yang harus dipenuhi agar sekumpolan manusia bisa dikatakan / disebut sebagai masyarakat.
1.      Ada sistem tindakan utama.
2.      Saling setia pada sistem tindakan utama.
3.       Mampu bertahan lebih dari masa hidup seorang anggota.
4.      Sebagian atan seluruh anggota baru didapat dari kelahiran / reproduksi manusia.
Masyarakat itu terbentuk melaui sejarahnya sendiri yang kadang-kadang cukup panjang yang melaui dan melewati beberapa proses yaitu adanya relasi-sosial: ialah hubungan satu sama lain atau pertemuan kebutuhan antara anggota masyarakat atau pertemuan kepentingan antara sesama anggota masyarakat. Dari relasi sosial itu, lalu timbulah interaksi-sosial. Dalam berinteraksi, maka telah terjadi saling pengaruh antara mereka yang  berinteraksi. Lalu dari proses interaksi itu, lahirlah proses adaptasi-sosial, ialah mereka saling menyesuaikan diri. Adaptasi ini dapat berupa tingkah laku dan sikap-sikap individu menjadi semangat kelompok.
Menurut Park dan Burgees dalam “Kelembagaan  dan Masyarakat “(Drs. Ngadiyono, 1984-pg 17)  bahwa interaksi itu memilki 5 kategori, ialah:
1.      Komunikasi, ialah proses penerusan dan penerimaan rangsang symbol dengan bahasa lisan, gerakan-gerakan ataupun tanda-tanda.
2.      Konflik, ialah pertentangan antara dua kelompok.
3.      Kompetisi atau persaingan, ialah perlombaan untuk lebih dahulu mencapai suatu tujuan.
4.      Asimilasi, ialah saling identifikasi antara dua kelompok, sehingga keduanya menjadi kelompok baru yang mempunyai kesamaan maksimal.
5.      Akomodasi, ialah usaha peredaan konflik antara dua pihak, agar keduanya lebih mendekat dan ketegangan dapat dihindarkan/diselessaikan.
6.      Kooperasi, ialah bentuk kerja sama dengan tujuan menggampangkan tercapainya tujuan.
Oleh sebab itu, maka kehidupan masyarakat itu merupakan pengorganisasian kepentingan perorangan, pengaturan sikap orang satu kepada yang lain, serta pemusatan orang ke dalam kelompok tertentu untuk melakukan kegiatan bersama. Pengorganisasian dan pengaturan berbagai macam pertemuan kepentingan itu disusun sedemikian rupa, sehingga merupakan suatu sistem pengaturan relasi sosial yang bercorak/berpola jelas, yang kemudian merupakan struktur sosial.

STRUKTUR SOSIAL (MASYARAKAT)
Definisi Struktur Sosial
Apa yang dimaksud dengan konsep struktur sosial? Untuk menjawab pertanyaan ini tidak mudah karena sosiologi merupakan suatu ilmu yang mempunyai banyak teori dan paradigma. Dalam sosiologi, ketika berbicara mengenai struktur sosial, maka sesungguhnya kita berbicara mengenai sesuatu yang saling bergantung dan membentuk suatu pola tertentu, yang terdiri atas pola perilaku individu, kelompok, institusi maupun masyarakat secara luas.
Dalam “Artikel, psikologi Sosial dan Batasan pengertian Struktur Sosial” (Oleh Wang Muba pada 25 februari 2009) secara harfiah, struktur bisa diartikan sebagai susunan atau bentuk. Struktur tidak harus dalam bentuk fisik, ada pula struktur yang berkaitan dengan sosial. Menurut ilmu sosiologi, struktur sosial adalah tatanan atau susunan sosial yang membentuk kelompok-kelompok sosial dalam masyarakat. Susunannya bisa vertical atau horizontal.
Ada beberapa pendapat tentang struktur sosial:
1.      Menurut Koentjaraningrat (1983; 175) menjelaskan bahwa struktur sosial adalah kerangka yang dapat menggambarkan kaitan berbagai unsur dalam masyarakat.
2.      Menurut Soeleman B, Taneko (1983; 12) menjelaskan bahwa struktur sosial adalah keseluruhan jalinan antara unsur-unsur sosial yang pokok yakni kaidah-kaidah sosial, lembaga-lembaga sosial, kelompok-kelompok sosial serta lapisan-lapisan sosial.
3.      Menurut Soerjono Soekanto menjelaskan bahwa struktur sosial adalah hubungan timbal balik antara posisi-posisi dan peran-peran sosial.
Dalam “Artikel, psikologi Sosial dan Batasan pengertian Struktur Sosial” (Oleh Wang Muba pada 25 februari 2009) Ciri-ciri struktur sosial adalah:
1.      Muncul pada kelompok masyarakat
Struktur sosial hanya bisa muncul pada individu-individu yang memilki status dan peran. Status dan peran masing-masing individu hanya bisa terbaca ketika mereka berada dalam sebuah keompok masyarakat. Pada setiap sistem sosial terdapat bermacam-macam status dan peran individu. Status yang berbeda-beda itu merupakan pencerminan hak dan kewajiban berbeda pula.
2.      Berkaitan erat dengan kebudayaan
Kelompok masyarakat lama-kelamaan akan membentuk suatu kebudayaan. Setiap kebudayaan memliki struktur sosialnya sendiri. Indonesia mempunyai banyak daerah dengan kebudayaan yang beraneka ragam. Hal ini menyebabkan beraneka ragam struktur sosial yang tumbuh dan berkembang di Indonesia.  Hal-hal yang  mempengaruhi struktur sosial masyarakat Indonesia adalah sebagai berikut:
a.       Keadaan geografis : kondisi geografis terdiri dari pulau-pulau yang terpisah. Masyarakatnya kemudian mengembangkan bahasa, perilaku, dan ikatan-ikatan kebudayaan yang berbeda satu sama lain.
b.      Mata pencaharian : masyarakat Indonesia memliki mata pencaharian yang beragam, antara lain sebagai petani, nelayan, ataupun sektor industri.
c.       Pembangunan
Pembangunan dapat mempengaruhi struktur sosial masyarakat Indonesia. Misalnya pembangunan yang tidak merata antar daerah akan menciptakan kelompok masyarakat kaya dan miskin.
3.      Dapat berubah dan berkembang
Masyarakat tidak statis karena terdiri dari kumpulan individu. Mereka bisa berubah dan berkembang sesuai dengan tuntutan zaman. Karenanya, struktur yang di bentuk oleh mereka pun bisa berubah sesuai dengan perkembangan zaman.
Struktur sosial ini merupakan bagian dari organisasi sosial dari masyarakat itu. Struktur sosial lahir karena telah lahirnya organisasi masyarakatnya. Struktur inilah yang kemungkinan sebagai aspek statis masyarakat sebab ia dipertahankan adanya sebagai alat mekanisme pengatur kepentingan warganya. Dari organisasi inilah maka lahirlah status sosial atau kedudukan sosial dan juga melahirkan peranan sosial atau social rule.
Kedudukan sosial adalah sebagai tempat atau posisi seseorang dalam suatu kelompok sosial. Dalam hidup bermasyarakat seseorang biasanya memilki beberapa kedudukan sekaligus. Status sosial member bentuk dan pola interaksi sosial. Pada umumnya kedudukan atau status sosial seseorang dalam kelompoknya mempunyai 2 aspek yaitu:
a.       Aspek Struktural yaitu status sosial yang ditujukan oleh adanya hierarki (susunan lapisan) sosial dari atas ke bawah yang sifatnya lebih stabil.
b.      Aspek Fungsional yaitu peran sosial yang berupa hak-hak kewajiban serta keharusan yang harus dilaksanakan oleh seseorang sebagai konsekuensi kedudukan sosialnya.
Struktur sosial memilki empat elemen dasar, yaitu:
1.      Status Sosial
Status sosial adalah kedudukan atau posisi seseorang dalam kelompok masyarakat, yang meliputi keseluruhan posisi sosial yang terdapat dalam suatu kelompok besar masyarakat, dari yang paling rendah hingga yang paling tinggi. Status Sosial dibedakan menjadi:
1)      Ascribed status
Status yang diberikan kepada seseorang tanpa memandang bakat atau karakteristik unik orang tersebut. didapat secara otomatis melalui kelahiran (keturunan). Latar belakang ras, gender dan usia dapat dikategorikan sebagai ascribed status.
2)      Achieved status
Status yang didapat seseorang melalui usaha-usahanya sendiri. Seseorang harus melakukan sesuatu untuk mendapatkan achieved status, seperti bersekolah, mempelajari keterampilan-keterampilan, berteman, atau menciptakan sesuatu yang baru.
3)      Assigned Status
Status yang diberikan kepada seseorang karena telah berjasa melakukan sesuatu untuk masyarakat.

2.      Peran Sosial
Merupakan seperangkat harapan terhadap seseorang yang menempati suatu posisi atau status sosial tertentu. Peran merupakan komponen yang penting dalam struktur sosial. Menurut sudut pandang fungsionalis, peran memberikan sumbangan pada stabilitas masyarakat dengan cara memampukan tindakan-tindakan mereka sendiri. Tetapi, peran sosial menjadi tidak berfungsi karena membatasi hubungan dan interaksi individu. Jika kita memandang seseorang hanya sebagai atasan, maka akan sulit untuk berhubungan dengan orang ini sebagai teman atau tetangga.

3.      Kelompok
Merupakan sejumlah orang yang memilki norma-norma, nilai-nilai, dan harapan yang sama, serta secara sadar dan teratur saling berinteraksi. Kelompok memainkan peran yang sangat penting dan vital dalam struktur sosial masyarakat karena sebagian besar interaksi sosial kita berlangsung dalam kelompok dan dipengaruhi oleh norma-norma dan sanksi-sanksi yang ada dalam kelompok.

4.      Institusi
Merupakan pola teroganisasi dari kepercayaan dan perilaku yang dipusatkan pada kebutuhan dasar sosial. Institusi dibentuk untuk memenuhi suatu kebutuhan tertentu. Melaui institusi sosial, telihat struktur dalam masyarakat. Institusi sosial seperti keluarga, agama, dan pemerintah merupakan aspek fundamental dari struktur sosial.
Peran sosial dan status sosial, merupakan aspek dinamis dari masyarakat. Hal ini di sebabkan karena adanya mobilitas sosial yang vertiakal, ialah perubahan status sosial naik-turun. Dengan berkembangnya sistem demokrasi, maka mobilitas vertikal menjadi hal yang wajar. Antara status sosial dan peranan sosial selalu berpasangan. Makin tinggi status sosial, maka peranan sosial yang diharapkan dari padanya semakin besar pula. Contohnya: Siswa SPG setelah menjadi Guru, mengalami mobilitas sosial yang vertikal, sebab dengan jabatannya sebagai guru ia naik statusnya. Peranan yang diharapkan dari Guru baru inipun lebih besar dibandingkan dengan sebelumnya. Dengan demikian ada pelapisan sosial atau stratifikasi sosial.

STRATIFIKASI SOSIAL (PELAPISAN SOSIAL)
Menurut  Sorokin (dalam Sosiologi teks Pengantar dan Terapan, Oleh J. Dwi Narwoko –Bagong Suyanto, 2004 – pg153) bahwa stratifikasi sosial adalah pembedaan penduduk atau masyarakat ke dalam kelas-kelas secara bertingkat atau hierarkis. Perwujudannya adalah adanya kelas-kelas tinggi dan kelas yang lebih rendah. Selanjutnya di sebutkan bahwa dasar dan inti lapisan-lapisan masyarakat adalah adanya ketidakseimbangan dalam pembagian hak dan kewajiban, kewajiban dan tanggung jawab nilai-nilai sosial dan pengaruhnya di antara anggota-anggota masyarakat. Bentuk konkret dari lapisan-lapisan dalam masyarakat tersebut bermacam-macam. Namun pada prinsipnya bentuk-bentuk tersebut bermacam-macam. Namun pada prinsipnya bentuk-bentuk tersebut dapat diklasifikasikan ke dalam tiga macam kelas, yaitu:
1.      Kelas yang didasarkan pada factor ekonomis,
2.      Kelas yang didasarkan pada factor politis,
3.      Kelas yang  didasarkan pada jabatan-jabatan tertentu atas dasarpolitis,.
Dlam bukunya Idianto M,  “sosiologi untuk SMA kelas X1” ada dasar-dasar terbentuknya pelapisan sosial adalah:
Dalam kehidupan masyarakat ada sesuatu yng dihargai yaitu kekayaan, kekuasaan, ilmu pengetahuan dan sebagainya. Hal itu merupakan latar belakang terbentuknya pelapiisan sosial. Siapa yang memilki sesuatu yang dihargai dalam jumlah yang banayk tergolong kelas atas dan sebaliknya barang siapa yang memiliki sesuatu yang dihargai dalam jumlah sedikit tergolong kelas bawah. Proses pelapisan dapat  terjadi dengan sendirinya atau disengaja.
1.      Pelapisan sosial yang terjadi dengan sendirinya
Pelapisan sosial dapat terjadi dengan senidrinya sesuai dengan kondisi anggota masyarakat karena aktif dalam memenuhi kebutuhan hidupnya dan bernasib baik. Orang-orang semacam itu akan menempati lapisan sosial kelas atas. Sebaliknya bagi anggota masyarakat yang malas dan nasibnya kurang menguntungkan menempati lapisan bawah.
Faktor-faktor yang mempengaruhi pelapisan sosial yang terjadi dengan sendirinya adalah:
a.       Kepandaian
b.      Tingkat umur
c.       Sifat keaslian anggota di dalam kerabat pimpinan masyarakat
d.      Pemilikan harta
Pelapisan sosial yang terbentuk dengan sendirinya di tandai dengan ciri-ciri sebagai berikut:
a)      Pelapisan sosial terbentuk sejalan dengan perkembangan masyarakat yang bersangkutan. Perkembangan ini meliputi kehidupan ekonomi, sosial dan politik. Misalnya: pergantian pemerintah dari masa orde baru ke masa reformasi.
b)      Pelapisan sosial terbentuk diluar kontrol masyarakat yang bersangkutan.
Misalnya: suatu daerah pertanian diubah menjadi kawasan industri. Lambat laun daerah itu berubah menjadi daerah perkotaan akibat arus urbanisasi, perkembangan ekonomi pembanguan fisik (berbagai fasilitas kehidupan) dan perubahan cara hidup. Hal ini pada akhirnya mendorong lahirnya pelapisan sosial baru.
c)      Pelapisan sosial terjadi sesuai dengan kondisi sosial budaya di wilayah yang bersangkutan. Kenyataan itu terbukti dari beragamnya pelapisan sosial antara suatu daerah ke daerah lainnya.
Misalnya: pelapisan sosial pada masyarakat nias terdiri dari Siulu (bangsawan), Ere (pemuka agama), dan Ono Mbanua (rakyat0. Sedangkan pelapisan sosial masyarakat Bali terdiri dari: brahmana (pendeta), Ksatria (bangsawan), Waisya (pedagang), Sudra (rakyat).
d)      Kedudukan seseorang dalam suatu lapisan beserta hak dan kewajibannya berlangsung secara otomatis. Misalnya: turunan pembuka desa (wong bahu) dalam masyarakat jawa otomatis  mempunyai kedudukan lebih terhormat dibandingkan turunan pendatang (kuli sendok atau lindung).
2.      Pelapisan sosial secara sengaja
Pelapisan ini dibentuk oleh suatu kelompok sosial (masyarakat) untuk tujuan tertentu. Contoh: dalam masyarakat Negara terdapat orang-orang yang menjabat presiden, senat, menteri dan lain-lain. Hal ini bertujuan untuk kelancaran penyelenggaraan Negara.
Kriteria yang digunakan untuk menggolongkan anggota masyarakat ke dalam lapisan masyarakat tersebut :
1.      Ukuran kekuasaan.
Anggota masyarakat yang memegang kekuasaan dan mempunyai wewenang terbesar akan menempati lapisan yang tinggi dalam sosial masyarakat.
2.      Ukuran kekayaan.
Anggota masyarakat kaya termasuk golongan lapisan teratas. Kekayaan dapat dilihat dari :
·         Bentuk rumah
·         Perabot rumah
·         kendaraan
3.      Ukuran kehormatan
Pada masyarakat tradisional orang-orang yang disegani dan dihormati akan menempati lapisan kelas atas.
4.      Ukuran ilmu pengetahuan atau pendidikan.
Dalam masyarakat yang menghargai ilmu pengetahuan, ilmu pengetahuan digunakan sebagai dasar pembentukan lapisan sosial. Semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang maka akan semakin tinggi pula tingkatannya.

Sifat-sifat pelapisan sosial.
1.      Pelapisan sosial tertutup ( close social stratification )
Pelapisan sosial tertutup tidak memberikan kemungkinan sesorang pindah dari 1 lapisan kelapisan yang lain. Dalam pelapisan sosial tertutup, mobilitas sangat terbatas atau bahkan mungkin tidak ada. Contohnya, sistem kasta di India.
2.      Pelapisan sosial terbuka ( opened social stratification )
Pelapisan sosial terbuka memberikan kemungkinan seseorang pindah dari satu lapisan kelapisan yang lainnya. Dasar terbentuknya lapisan ini adalah kecakapan kemampuan atau keberhasilan usaha, sehingga dalam pelapisan sosial terbuka kemungkinan mengadakan mobilitas sangat besar. Pelapisan sosial macam ini terjadi pada masyarakat modern. Status seseorang bukan lagi ditentukan oleh keturunan, warna kulit atau hal-hal yang berbau sara melainkan oleh kecakapan pribadinya.

DIFERENSIASI SOSIAL
Deferensiasi sosial merupakan gambaran tentang penggolongan masyarakat kedalam suatu lapisan tertentu sebagai perwujudan pembagian sosial secara horizontal atau mendatar.
Prinsip-prinsip yang dijadikan dasar diferensiasi sosial antara lain karena adanya perbedaan ras, agama, jenis kelamin, profesi, iklan, suku bangsa dan sebagainya. Jadi, istilah deferensiasi sosial adalah perbedaan sosial atau warga masyarakat kedalam golongan atau kelompok secara horizontal.
Diferensiasi sosial menunjukkan adanya keanekargaman dalam masyarakat atau disebut juga kemajemukan masyarakat. Perbedaan diferensiasi sosial dengan stratifikasi sosial adalah stratifikasi sosial memandang masyarakat secara vertikal dan menyorot lapisan atau strata, sedangkan diferensiasi sosial memandang masyarakat secara horizontal tanpa memandang adanya perbedaan tingkat atas strata.
Terjadinya bentuk-bentuk diferensiasi sosial dalam masyarakat diakibatnya oleh adanya ciri-ciri tertentu:
·         Ciri-ciri fisik yang berkaitan dengan ras yaitu penggolongan manusia atas dasar persamaan ciri-ciri fisik yang nampak dari luar.
·         Ciri-ciri sosial
·         Ciri-ciri budaya
Bentuk-bentuk diferensiasi sosial dalam masyarakat.
1.      Diferensiasi sosial berdasarkan perbedaan ras.
Dibedakan berdasarkan cirri-ciri fisik :
·         Bentuk kepala
·         Bentuk hidung
·         Bentuk rambut
·         Warna kulit
·         Warna mata
2.      Deferensiasi sosial berdasarkan perbedaan agama.
Keberadaan agama dalam suatu masyarakat merupakan perkembangan kultur budaya masyarakat setempat. Agama sebagai aspek budaya yang muncul dari kehidupan bersama suatu masyarakat akhirnya menjadi pedoman semua aspek kehidupan.
Agama mempunyai norma dan pranata tersendiri. Masyarakat yang beragama sangat menjunjung tinggi nilai-nilai keagamaan yang mengatur bagaimana manusia berhubungan dengan tuhan dan bagaimana manusia berhubungan dengan sesamanya. Diferensiasi sosial berdasarkan perbedaan agama tampak dalam suatu kelompok yang disebut umat. Agama menjadi pedoman dalam kehidupan sosial sehari-hari, adanya perbedaan agama yang menyebabkan munculnya penggolongan sosial pada warga masyarakat berdasarkan agama yang di anutnya.

DAFTAR PUSTAKA
Organisasi.org Komunitas dan Perpustakaan Online Indonesia. “Pengetahuan Masyarakat, Unsur dan Kriteria Masyarakat dalam Kehidupan Sosial antar Manusia”, Tuesday, 10/06/2008 – 10.34pm.
Prof. Dr. Soerjono Soekanto, S.H, M.A. 1993. “Beberapa Teori Sosiologi tentang Struktur Masyarakat”,  Jakarta: PT Raja Grafindo Persada
Drs. Nadiyono. 1984. “Kelembagaan dan Masyarakat”. Jakarta: PT Bina Aksara
WangMuba. 25 februari 2009. “Artikel, Psikologi Sosial (Batasan Pengertian Struktur Sosial)”. http://wangmuba.com/2009/02/25/batasan-perngertian-struktur-sosial/
J. Dwi Narwoko, Bagong Suyanto. 2004. “Sosiologi Teks Pengantar dan Terapan” Jakarta: Kencana Prenada Media Group
Idianto M.2005. “Sosiologi Untuk SMA Kelas XI”. Jakarta : Erlangga

Tidak ada komentar:

Posting Komentar